Ancelotti dan Italia: Cinta yang Tak Pernah Tepat Waktu
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini mengonfirmasi bahwa Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola menolak tawaran menukangi timnas Italia.
- Kegagalan mendatangkan dua pelatih top itu membuat FIGC beralih ke Andrea Pirlo, mantan gelandang andalan Ancelotti.
- Situasi ini seperti roman picisan: sosok yang sempurna selalu hadir di momen yang salah bagi sepak bola Italia.

Paolo Maldini membenarkan bahwa Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) telah mendekati Carlo Ancelotti untuk mengisi kursi pelatih tim nasional, bahkan sebelum nama Pep Guardiola muncul. Namun, kedua pelatih kelas dunia itu menolak, meninggalkan pencarian pelatih baru yang semakin alot.
Bagi pengamat sepak bola Italia, skenario ini terasa seperti film komedi romantis yang klise: pasangan ideal yang tak pernah bisa bersatu karena waktu yang salah. Ancelotti, yang lahir dan besar di Italia serta memiliki segudang prestasi, dianggap sebagai sosok yang sempurna untuk membangkitkan kembali kejayaan Gli Azzurri. Namun, komitmennya bersama Real Madrid menjadi penghalang. Guardiola pun demikian, masih terikat kontrak dengan Manchester City.
Dengan dua opsi utama batal, FIGC kini mengarahkan pandangan kepada Andrea Pirlo. Pirlo, yang pernah menjadi otak permainan di lini tengah AC Milan era Ancelotti, dinilai sebagai kandidat yang logis. Meski pengalaman kepelatihannya belum sekelas Ancelotti atau Guardiola, ia dianggap memahami filosofi sepak bola Italia dan memiliki hubungan emosional dengan para pemain.
Kegagalan FIGC mengamankan pelatih top ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan juga cerminan krisis daya tarik sepak bola Italia. Dibandingkan dengan era keemasan 1990-an dan awal 2000-an, Serie A kini tidak lagi menjadi destinasi utama bagi pemain dan pelatih bintang. Ancelotti sendiri, dalam beberapa kesempatan, menyatakan bahwa ia ingin fokus menangani klub daripada tim nasional, setidaknya untuk saat ini.
Bagi Indonesia, dinamika ini bisa menjadi pelajaran berharga. PSSI, yang tengah gencar membangun kembali fondasi sepak bola nasional, perlu memastikan bahwa proses seleksi pelatih tidak hanya mengandalkan nama besar, tetapi juga kesesuaian visi dan ketersediaan waktu. Kasus Italia menunjukkan bahwa pelatih terbaik sekalipun tidak akan berguna jika tidak ada kesepakatan dalam hal komitmen jangka panjang.
Ke depan, FIGC harus segera mengambil keputusan. Jika Pirlo resmi ditunjuk, ia akan menghadapi tugas berat: membangun tim yang kompetitif untuk Piala Eropa 2024 dan kualifikasi Piala Dunia 2026. Pertanyaan besarnya, akankah Pirlo mampu keluar dari bayang-bayang Ancelotti? Ataukah Italia akan terus terjebak dalam lingkaran cinta yang tak berbalas?



