Polemik Afiliasi Rusia: Andrea Pirlo Batal Latih Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Andrea Pirlo mengundurkan diri dari bursa pelatih timnas Italia setelah kritik pedas terkait afiliasinya dengan perusahaan taruhan Rusia yang terafiliasi Kremlin.
- Para politisi Italia menilai kerja sama Pirlo dengan Fonbet bertentangan dengan nilai-nilai nasional di tengah perang Ukraina, memicu perdebatan etika di sepak bola Italia.
- Figur seperti Antonio Conte dan Roberto Mancini kembali masuk bursa calon pelatih, sementara FIGC harus segera mengisi posisi kosong menjelang Nations League.

Andrea Pirlo resmi membatalkan pencalonannya sebagai pelatih tim nasional Italia setelah menuai kontroversi berkepanjangan terkait kedekatannya dengan perusahaan judi asal Rusia. Mantan gelandang Juventus dan AC Milan itu mengumumkan mundur melalui unggahan Instagram, Senin (21/8) pagi, sehari setelah sejumlah politikus Italia mengecam rencana Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang hampir pasti menunjuknya.
Pirlo, 47 tahun, sejak Oktober lalu menjabat sebagai duta global Fonbet, perusahaan taruhan Rusia yang aktif mensponsori acara olahraga yang melibatkan veteran perang Ukraina. Dalam sebuah acara di Moskow, ia tampil bersama mantan rekan setim Marco Materazzi dan bintang pop pro-Kremlin, Shaman, yang dikenal mendukung invasi Rusia ke Ukraina. Momen itu terjadi di hari yang sama dengan serangan besar Rusia terhadap Ukraina, memicu kecaman dari atlet Ukraina Vladyslav Heraskevych.
“Sungguh menyedihkan melihat legenda masa kecil berubah menjadi bankrut moral,” ujar Heraskevych, seperti dikutip media Italia. Politisi dari partai Azione, Carlo Calenda, menegaskan bahwa siapa pun yang mempromosikan Rusia setelah 2022 tidak pantas memegang jabatan publik. Pina Picierno, wakil presiden Parlemen Eropa, menilai keputusan FIGC menunjukkan bahwa sepak bola Italia “sangat membutuhkan revolusi budaya, etika, dan manajerial” – dan pilihan Pirlo justru berlawanan arah.
Dalam klarifikasinya, Pirlo menegaskan bahwa kerja samanya dengan klub Dubai, United FC, murni bersifat komersial dan olahraga, bukan politik. “Memberikan makna politik pada kerja sama itu berarti memberitahu saya keyakinan yang tidak pernah saya ungkapkan dan bukan milik saya,” tulisnya. Namun, dukungan justru datang dari Dubes Rusia untuk Italia, Aleksey Paramonov, yang menyesalkan “ostrasisme” terhadap Pirlo di negara sendiri.
Kontroversi ini kini berpotensi menyeret Paolo Maldini, direktur teknis FIGC yang baru menjabat sejak 11 Juli. Media Italia menyebutkan Maldini mungkin mengundurkan diri karena gagal merealisasikan penunjukan Pirlo. Maldini dan penasihatnya, Leonardo, mendapat tugas mencari pelatih baru untuk membawa Italia melaju di Nations League melawan Prancis, Belgia, dan Turki, serta kualifikasi Euro 2028.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi cermin pentingnya menjaga jarak dari kepentingan politik luar negeri, terutama yang berkaitan dengan sanksi internasional. Di Indonesia, aturan ketat perjudian online juga membuat kerja sama dengan perusahaan taruhan asing, apalagi dari negara yang terkait konflik, bisa menjadi bumerang bagi reputasi publik figur. “Ini pelajaran bahwa olahraga dan politik tidak bisa dipisahkan begitu saja, terutama di era media sosial,” ujar analis olahraga dari Universitas Indonesia.
Nama-nama seperti Antonio Conte dan Roberto Mancini kini kembali mencuat. Mancini sebelumnya membawa Italia juara Euro 2020 sebelum gagal lolos ke Piala Dunia 2022 dan hengkang ke Arab Saudi. FIGC harus bergerak cepat mengingat jadwal padat timnas. Pertanyaan besarnya: mampukah Italia bangkit dari keterpurukan dengan pelatih baru di tengah keterbatasan waktu?



