Anak 6 Tahun Kena Sanksi Tiket Manchester United: Korban Salah Sasaran Anti-Touting?
Baca dalam 60 detik
- Seorang anak laki-laki berusia enam tahun, Ruari, terkena pembatasan tiket musiman Manchester United akibat dugaan penyalahgunaan akun dalam operasi anti-touting klub.
- Ibunya, Katie, mengaku hanya membantu anggota keluarga mengelola tiket dan tidak menjualnya untuk untung, tetapi bandingnya ditolak klub dalam hitungan jam.
- Kasus ini menyoroti risiko sistem anti-touting yang agresif, di mana fans setia bisa menjadi korban salah sasaran, sementara klub berhasil mengamankan lebih dari 14.000 tiket musim lalu.

Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun yang pernah menjadi maskot Manchester United harus menerima kenyataan pahit: akun tiket musimannya dibatasi oleh klub sebagai bagian dari operasi pemberantasan calo tiket. Keputusan ini membuatnya tidak bisa mendaftar tiket tandang untuk laga pembuka Premier League melawan Hull City, dan keluarganya terpaksa melewatkan pertandingan pertama musim ini.
Katie, ibu Ruari yang tinggal di Urmston, Trafford, mengaku tidak menyangka anaknya yang "gila bola" terkena dampak kebijakan tersebut. Dalam unggahan di media sosial yang telah dilihat lebih dari 1,3 juta kali, ia menyebut pembatasan itu akan "menghancurkan hati" Ruari. Namun, ia memilih tidak memberi tahu anaknya karena "tidak bisa membebankan hal itu pada anak enam tahun".
Manchester United, melalui surel yang dilihat BBC, menyatakan bahwa akses berulang ke akun Ruari bersama dengan "sangat banyak" akun tiket lainnya mengindikasikan adanya pengelolaan terpusat. Klub menilai pola aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan secara memuaskan, sehingga akun Ruari dianggap berada di bawah kendali orang lain dan digunakan di luar prosedur resmi.
Katie membantah tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa 19 anggota keluarga dan teman telah membentuk grup untuk duduk bersama di sektor bernyanyi Old Trafford. Ia yang menangani sebagian besar administrasi tiket, termasuk aplikasi tandang, karena beberapa kerabat kurang percaya diri menggunakan sistem daring. Menurutnya, tidak ada tiket yang dijual untuk untung, diiklankan, atau diberikan kepada pihak ketiga yang tidak berwenang, dan tidak ada perangkat lunak otomatis atau bot yang digunakan. Jika ada anggota keluarga yang tidak bisa hadir, tiket dialihkan melalui sistem resmi klub.
Manchester United sebelumnya mengaku yakin bahwa "sebagian besar" akun yang ditandai karena penyalahgunaan telah tepat sasaran, namun mengakui beberapa pendukung yang tidak bersalah mungkin juga terkena dampak. Dalam kasus Ruari, klub menolak memberikan komentar spesifik, tetapi menegaskan bahwa keputusan diambil setelah "peninjauan mendetail" terhadap informasi yang diberikan Katie dan hasil investigasi.
Katie menduga penolakan bandingnya dilakukan secara otomatis oleh kecerdasan buatan (AI) karena datang hanya empat jam setelah ia mengirimkan penjelasan, dan menggunakan kata-kata yang sama dengan respons yang diterima pendukung lain. Ia telah mengajukan banding lanjutan ke panel banding klub, namun hingga kini akun Ruari masih dibatasi.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa kebijakan anti-touting yang agresif bisa berdampak pada fans setia yang tidak bersalah. Di tengah maraknya penjualan tiket ilegal, klub-klub besar seperti Manchester United memang perlu bertindak tegas. Namun, sistem yang terlalu kaku dan minim verensi manusia berisiko menjerat pendukung yang hanya membantu keluarga atau teman. Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana klub dapat menyeimbangkan antara pemberantasan calo dan perlindungan terhadap fans yang sah? Apakah penggunaan AI dalam pengambilan keputusan seperti ini sudah cukup adil?



