Perdana Menteri Jepang dan Solomon Islands Tegaskan Kembali Kemitraan Tradisional di Tengah Tarik Ulur Pengaruh China
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan PM Solomon Islands Matthew Wale bertemu di Tokyo, memperkuat hubungan bilateral setelah era pendahulu Wale yang condong ke China.
- Wale, yang sebelumnya mengkritik pakta keamanan dengan China 2022, memilih Jepang sebagai salah satu tujuan diplomatik awal, menandakan pergeseran prioritas ke mitra tradisional.
- Jepang mengucurkan pinjaman pembangunan ยฅ3 miliar untuk Solomon Islands, bagian dari strategi membendung pengaruh Beijing di Pasifik Selatan yang juga menjadi perhatian Indonesia.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan mitranya dari Solomon Islands, Matthew Wale, menggelar pertemuan bilateral pertama di Tokyo, Kamis (24/7), menegaskan kembali ikatan tradisional kedua negara di tengah dinamika geopolitik Pasifik yang kian memanas. Pertemuan ini menjadi sinyal awal bahwa Honiara mulai menggeser poros diplomatiknya kembali ke mitra lama setelah era kepemimpinan sebelumnya yang lebih akrab dengan Beijing.
Wale, yang naik jabatan pada Mei lalu, dikenal sebagai kritikus keras pakta keamanan komprehensif yang ditandatangani Solomon Islands dengan China pada 2022. Dalam kunjungannya ke Australia bulan lalu, ia bahkan berjanji akan meninjau ulang perjanjian tersebut. Langkah ini disambut hangat oleh Jepang dan negara-negara Indo-Pasifik lain yang selama ini waspada terhadap ekspansi pengaruh China di kawasan yang strategis.
"Sebagai sahabat yang diikat oleh Samudra Pasifik dan nilai-nilai bersama seperti kebebasan, demokrasi, supremasi hukum, dan hak asasi manusia, saya berharap kita dapat terus membangun kerja sama untuk menjadikan negara kita lebih kuat dan sejahtera bersama," ujar Takaichi di awal pertemuan, seperti dikutip Kementerian Luar Negeri Jepang. Wale, pada gilirannya, berterima kasih atas dukungan ekstensif Jepang dan berkomitmen mempererat hubungan bilateral.
Langkah Wale mengunjungi Jepang setelah bertemu dengan Deputi Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau di Washington menunjukkan upaya nyata untuk menyeimbangkan kembali hubungan luar negerinya. Bagi Jepang, Solomon Islands bukan sekadar negara kepulauan kecil, melainkan titik strategis di Pasifik Selatan yang bisa menjadi batu loncatan bagi militer China jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, yang juga berbatasan langsung dengan Pasifik dan memiliki kepentingan menjaga stabilitas kawasan. Pergeseran sikap Solomon Islands bisa menjadi preseden bagi negara-negara Pasifik lainnya yang selama ini terjepit antara janji investasi China dan nilai-nilai demokrasi yang ditawarkan Jepang serta sekutunya. Indonesia, melalui kebijakan Poros Maritim, perlu mencermati dinamika ini agar tidak kehilangan pengaruh di Pasifik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Wale benar-benar akan membatalkan pakta keamanan dengan China atau sekadar melakukan renegosiasi. Jika ia konsisten, Solomon Islands bisa menjadi contoh bagaimana negara kecil mampu memainkan kartu diplomasi secara cerdas di antara raksasa global. Namun, tekanan ekonomi dari Beijing tentu tidak akan mudah diabaikan.



