BEI Cecar TGUK soal Bisnis Frozen Meat: Pelanggan Sama dengan BEEF?
Baca dalam 60 detik
- Otoritas bursa meminta klarifikasi PT Platinum Wahab Nusantara Tbk terkait lini bisnis daging beku yang baru, menyoroti tumpang tindih pelanggan dengan emiten lain.
- TGUK mengakui sembilan pelanggannya juga tercatat sebagai pelanggan PT Estika Tata Tiara Tbk, namun membantah adanya pengalihan kontrak.
- Lonjakan penjualan 276 kali lipat pada kuartal I-2026 memicu pertanyaan soal keberlanjutan model bisnis yang bergantung pada jaringan investor strategis.

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melayangkan pertanyaan kepada PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) terkait bisnis barunya di sektor perdagangan daging beku. Sorotan itu tidak hanya menyasar model bisnis, tetapi juga asal-usul pelanggan dan pemasok, serta keterkaitan dengan emiten lain di sektor yang sama.
Dalam surat jawaban yang dikirimkan ke BEI, manajemen TGUK mengakui bahwa sebagian pelanggan diperoleh melalui jaringan investor strategis. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan pelanggan yang sama dengan PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF), emiten yang juga bergerak di bidang daging olahan. Namun, TGUK menegaskan tidak ada pengalihan kontrak atau perjanjian khusus yang melandasi hubungan tersebut. Seluruh transaksi dilakukan langsung dengan mekanisme purchase order.
Data laporan keuangan menunjukkan sedikitnya sembilan pelanggan TGUK juga tercatat sebagai pelanggan BEEF. Temuan ini menjadi salah satu pemicu BEI untuk mendalami lebih jauh praktik bisnis TGUK, terutama setelah perseroan melakukan pivot drastis dari penjual minuman manis menjadi pedagang daging beku.
BEI juga menyoroti peran investor strategis dalam pengembangan bisnis baru TGUK. Menurut klarifikasi perseroan, investor strategis berperan membuka akses ke jaringan pemasok dan pelanggan tanpa terlibat dalam operasional harian. Sementara itu, Direktur Operasional Edi Pramono disebut sebagai pihak yang memperkenalkan pelanggan dan pemasok, berbekal pengalaman lebih dari satu dekade di industri daging.
Lonjakan kinerja TGUK pada kuartal I-2026 memang mencolok. Pendapatan meroket menjadi Rp200,74 miliar dari sebelumnya hanya Rp726 juta, didorong oleh mulai beroperasinya lini frozen meat dan permintaan tinggi selama Ramadan dan Idulfitri. Laba bersih pun berbalik positif menjadi sekitar Rp2,43 miliar. Namun, pertanyaan tentang keberlanjutan model bisnis ini mengemuka, terutama karena ketergantungan pada jaringan eksternal.
Di sisi lain, BEEF yang menjadi pembanding memiliki skala jauh lebih besar. Hingga akhir Maret 2026, BEEF mencatat total aset Rp2,2 triliun, persediaan Rp621,46 miliar, dan kas setara kas Rp17,10 miliar. Perbandingan ini mempertegas kesenjangan antara kedua emiten, meskipun terdapat tumpang tindih pelanggan.
Bagi investor di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya transparansi dalam pengungkapan hubungan bisnis, terutama saat emiten melakukan perubahan lini usaha secara drastis. Regulator tampaknya akan terus mengawasi praktik semacam ini untuk memastikan tidak ada pelanggaran aturan pencatatan dan perlindungan pemegang saham minoritas. Pertanyaan selanjutnya: apakah model bisnis TGUK mampu bertahan tanpa bergantung pada jaringan investor strategis?



