Gerakan Kecoa: Ketika Anak Muda India Tak Lagi Percaya pada Ujian Negara
Baca dalam 60 detik
- Ribuan mahasiswa India memprotes kebocoran soal ujian negara yang menghancurkan kepercayaan pada sistem meritokrasi.
- Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) berbeda dari protes sebelumnya karena tidak berbasis ideologi, melainkan kegagalan tata kelola.
- Pemerintah Modi merespons dengan janji pengadilan cepat, tapi pengamat meragukan cukup untuk meredam amarah generasi muda.

Kepercayaan jutaan anak muda India terhadap sistem ujian yang menentukan masa depan mereka runtuh setelah serangkaian kebocoran soal—dan kemarahan itu kini meledak di jalanan New Delhi. Senin lalu, puluhan ribu mahasiswa berusaha berarak menuju parlemen, dihadapi gas air mata dan pentungan polisi. Sejak itu, ribuan lainnya terus turun ke jalan.
Gerakan yang menamakan diri Cockroach Janta Party (CJP) ini lahir dari kekecewaan mendalam atas bocornya kertas ujian secara berulang. Mereka menuntut reformasi pendidikan dan mundurnya Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan. Di pusat gerakan, aktivis Sonam Wangchuk melakukan mogok makan 26 hari hingga kehilangan 11 kilogram, baru mengakhirinya Kamis lalu. Namun para pemimpin mahasiswa menegaskan protes akan terus berlanjut.
Yang membuat CJP berbeda dari gelombang protes sebelumnya—seperti penolakan Undang-Undang Kewarganegaraan atau undang-undang pertanian—adalah sifatnya yang tidak ideologis. Menurut Yamini Aiyar, Senior Visiting Fellow di Brown University, gerakan ini menyentuh lintas kasta, kelas, dan gender. "Konstituen inti yang datang bukan mewakili kelompok kepentingan tunggal," ujarnya.
Rahul Verma, peneliti di Centre for Policy Research Delhi, menilai protes ini berpusat pada kegagalan administratif. "Ketidakmampuan negara menyelenggarakan ujian secara adil dan mencegah kebocoran soal menjadi tantangan politik yang sangat berbeda bagi BJP," katanya. Berbeda dengan protes sebelumnya, gerakan ini mempertanyakan kemampuan BJP memerintah, bukan sekadar kebijakan.
Bahkan banyak pengunjuk rasa, menurut Verma, bukanlah lawan alami BJP. Mereka adalah "anak muda aspiratif dan orang tua mereka yang melihat ujian sebagai jalan mobilitas sosial." Karena keluhan tentang tata kelola, bukan ideologi, BJP sulit mengerahkan narasi tandingan yang biasa dipakai menghadapi protes.
Kekuatan gerakan ini juga terlihat di media sosial. Joyojit Pal, profesor di University of Michigan, menyebut media sosial sebagai "kotak api yang siap meledak dengan hal berikutnya." Kemarahan yang terpendam atas kurangnya akuntabilitas negara menciptakan kondisi "ledakan" ini. Namun pertanyaannya, apakah momentum daring bisa bertahan lama?
Verma optimistis: "Saya pikir pertemuan Senin lalu menunjukkan gerakan ini telah melewati titik kritis." Namun pertumbuhan selanjutnya sangat tergantung pada respons pemerintah. Aiyar menambahkan, kehadiran serikat mahasiswa dan kelompok kiri justru kalah jumlah oleh "luapan organik mahasiswa dari seluruh negeri." Menurutnya, itu unik dalam sejarah protes India modern.
Pemerintah Modi awalnya membiarkan menteri dan juru bicara partai merespons. Namun Rabu lalu, Menteri Pertahanan Rajnath Singh menuduh oposisi menggunakan mahasiswa sebagai "alat politik." Modi baru angkat bicara Kamis, menjanjikan pengadilan cepat untuk menghukum pelaku kebocoran. "Tidak ada yang lebih penting dari kesejahteraan dan masa depan pemuda kita," tulisnya di X.
Namun pengamat meragukan janji itu cukup. Aiyar melihat gerakan ini telah menyentuh kecemasan lebih luas: ekonomi melambat, lapangan kerja langka, dan rasa bahwa masa depan menawarkan semakin sedikit peluang. "Ada ketidakpuasan ekonomi yang mendalam, yang berubah menjadi kurangnya harapan," katanya. "Ini bisa mencerminkan kelelahan terhadap pemerintah yang sudah lama berkuasa."
Ilmuwan politik Suhas Palshikar memperingatkan agar tidak meromantisasi gerakan ini sebagai pemberontakan Gen Z. "Karakter ideologis dan politiknya saat ini cair," tulisnya. Berbagai kekuatan politik kemungkinan akan mencoba memengaruhinya. Namun ia mengakui, "Anak muda telah menunjukkan kegelisahan dan rasa jijik mereka. Mereka juga menunjukkan bahwa hanya aksi jalanan yang membuat rezim ini mendengar dan berbicara."
Ekonom Surajit Mazumdar dari Jawaharlal Nehru University menilai protes ini lebih luas dari sekadar kebocoran soal. "Ini menunjukkan semangat demokrasi masih hidup di masyarakat India," katanya. Bagi Aiyar, fenomena ini menandai perpecahan baru: "Orang mencari akuntabilitas tata kelola di ruang non-elektoral. Pemisahan antara legitimasi elektoral dan akuntabilitas demokratis di luar ruang pemilu adalah fenomena baru politik India."
Pertanyaan besarnya: apakah energi ini bisa bertahan menjadi gerakan politik yang berkelanjutan, atau hanya sekadar pelampiasan kemarahan yang akan mereda? Jawabannya, seperti biasa, hanya waktu yang akan menentukan.



