Delapan Bandara Masih Ditutup Akibat Abu Krakatau, Menhub: Keselamatan Tak Bisa Ditawar
Baca dalam 60 detik
- Kemenhub memperpanjang penutupan delapan bandara hingga Senin pagi imbas sebaran abu vulkanik Anak Krakatau yang masih dinamis.
- Bandara Soekarno-Hatta menjadi pengecualian dengan jadwal buka lebih awal, tetapi seluruh penerbangan tetap menunggu hasil paper test berkala.
- Maskapai diwajibkan melakukan inspeksi menyeluruh pada mesin pesawat sebelum kembali beroperasi demi mencegah kerusakan akibat partikel abu.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan delapan bandara yang lumpuh akibat erupsi Gunung Anak Krakatau belum akan beroperasi sebelum ada kepastian keselamatan penerbangan. Penutupan yang semula dijadwalkan berakhir Minggu malam resmi diperpanjang hingga Senin (7/9/2026) pukul 09.00 WIB, dengan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menjadi pengecualian karena akan dibuka sepuluh menit lebih awal.
Perpanjangan ini bukan tanpa alasan. Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan pola sebaran abu vulkanik yang masih sulit diprediksi. Menurut Dudy, arah angin di setiap lapisan ketinggian berubah dengan cepat, sehingga otoritas penerbangan memilih pendekatan konservatif ketimbang mengambil risiko. "Keselamatan menjadi prioritas kita. Kami melihat situasi terakhir berdasarkan informasi yang diberikan BMKG," ujarnya dalam siaran pers, Minggu malam.
Keputusan ini berdampak langsung pada ribuan penumpang yang terjebak di sejumlah bandara, terutama di kawasan Jakarta, Banten, dan Lampung. Selain Soetta, bandara yang ikut ditutup meliputi Halim Perdanakusuma Jakarta, Radin Inten II Lampung, Husein Sastranegara Bandung, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas di Pesisir Barat, serta Atung Bungsu di Pagar Alam. Bagi maskapai, situasi ini memicu biaya operasional tambahan, mulai dari akomodasi penumpang hingga perawatan darurat armada yang terpaksa diparkir di apron.
Kementerian Perhubungan tidak tinggal diam. Setiap 30 menit, petugas di seluruh bandara melakukan paper test untuk memantau kepadatan abu di udara. Hasil tes ini menjadi acuan utama sebelum bandara dibuka kembali. Namun, Dudy menggarisbawahi bahwa pembukaan bandara hanyalah langkah awal. "Biasanya semua airlines sudah menyiapkan. Kalau ada apa-apa, jika harus menginap, mereka akan tutup mesinnya. Itu pun nanti kalau misalnya (bandara) sudah buka, mereka harus melakukan pemeriksaan dulu sebelum beroperasi untuk memastikan tidak ada debu di mesin," jelasnya.
Prosedur pemeriksaan pasca-erupsi memang bukan perkara sepele. Partikel abu vulkanik yang masuk ke dalam mesin jet dapat menyebabkan kerusakan serius pada kompresor dan turbin, yang berujung pada penurunan performa atau bahkan kegagalan mesin di udara. Karena itu, Kemenhub mewajibkan setiap pesawat yang akan terbang menjalani inspeksi menyeluruh, termasuk pengecekan filter udara dan sistem bahan bakar. Langkah ini dinilai penting mengingat frekuensi penerbangan domestik yang padat di wilayah terdampak.
Bagi pelaku industri penerbangan dan calon penumpang, ketidakpastian ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur transportasi udara Indonesia terhadap bencana geologis. Letusan Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda memang kerap memicu gangguan serupa, tetapi intensitas dan durasi kali ini tergolong lebih lama. Para analis memperkirakan kerugian ekonomi dari penutupan bandara bisa mencapai miliaran rupiah per hari, belum termasuk dampak pada sektor pariwisata dan logistik yang mengandalkan konektivitas udara.
Ke depan, publik menunggu kepastian kapan seluruh bandara bisa kembali normal. Dudy sendiri mengaku belum bisa memastikan waktu pembukaan karena kondisi cuaca yang dinamis. "Jadi kami belum bisa memastikan kapan akan berakhir karena cuaca terlalu dinamis. Tadi disampaikan BMKG bahwa setiap layer ketinggian arah anginnya cepat berubah, sehingga ini yang harus kita pastikan," tambahnya. Pertanyaannya, apakah otoritas akan memberlakukan pembukaan bertahap atau menunggu hingga benar-benar bersih? Yang jelas, keselamatan tetap menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.



