Iran Tawarkan Gencatan Senjata Bersyarat: Serangan Dihentikan Jika AS Jeda Pemboman
Baca dalam 60 detik
- Teheran menyatakan akan menghentikan serangan balasan selama Washington konsisten menahan diri dari operasi udara, sebuah sinyal yang membuka celah diplomasi setelah hampir dua minggu saling bombardir.
- Langkah Donald Trump menghentikan sementara serangan terhadap Iran disambut skeptis oleh kalangan intelijen Iran yang menilai jeda tersebut lebih bersifat taktis ketimbang perubahan fundamental dalam posisi negosiasi AS.
- Jika jeda ini bertahan, harga minyak mentah Brent yang telah menembus US$100 per barel akibat blokade Houthi di Laut Merah berpotensi mereda, memberikan kelegaan bagi negara pengimpor seperti Indonesia.

Seorang pejabat senior Iran memberikan sinyal yang menggantungkan harapan sekaligus kecurigaan: operasi militer Teheran akan berhenti selama Amerika Serikat benar-benar menghentikan kampanye pemboman yang telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut. Namun, di balik pernyataan bersyarat itu, tersirat keraguan mendalam terhadap niat Washington.
Dalam pernyataan eksklusif kepada Reuters, Minggu (26/7), sumber yang enggan disebut namanya itu menegaskan bahwa sikap Iran tetap 'serangan balas serangan'. “Jika serangan dihentikan, Iran juga akan menghentikan operasinya. Pesan itu sudah disampaikan ke AS,” ujarnya. Namun, ia menambahkan bahwa Iran siap melancarkan respons besar-besaran apabila AS kembali melancarkan serangan.
Jeda yang diumumkan secara sepihak oleh Presiden Donald Trump pada Jumat malam lalu mengejutkan banyak pihak. Selama dua pekan sebelumnya, Pentagon setiap sore menyodorkan rencana serangan ke Iran yang selalu mendapat persetujuan Trump—hingga akhirnya ia memutuskan berhenti. Menurut laporan Axios, keputusan itu muncul setelah Kepala Staf Pentagon, Dan Caine, dan Wakil Presiden JD Vance menyuarakan kekhawatiran, termasuk soal menipisnya stok pertahanan rudal AS di kawasan.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menjelaskan bahwa jeda ini memberi ruang bagi diplomasi. “Presiden memberi kesempatan bagi perundingan,” katanya kepada Fox News. Namun di Teheran, sentimen yang dominan justru skeptis. “Lebih banyak skeptisisme ketimbang optimisme. Jeda ini dinilai taktis, bukan tulus. Iran telah memiliki cukup pengalaman pahit dengan apa yang dianggapnya sebagai penipuan AS,” ujar pejabat Iran tersebut.
Kampanye militer AS dua pekan itu secara efektif menenggelamkan kesepakatan sementara yang dicapai bulan lalu untuk mengakhiri perang yang dimulai AS dan Israel pada Februari. Kini, kedua pihak berada di titik puncak eskalasi—jeda singkat ini diuji oleh aksi Houthi yang pada Sabtu lalu menembaki sasaran minyak Saudi di Laut Merah untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun.
Dampak konflik ini terasa langsung ke pasar energi global. Blokade Houthi di Laut Merah telah menutup salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk, mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel. Bagi Indonesia, yang masih menggantungkan impor minyak mentah dan BBM, lonjakan harga ini menekan anggaran subsidi dan neraca perdagangan. Jika jeda pertempuran bertahan, tekanan harga minyak bisa mereda—setidaknya untuk sementara.
Pertanyaan besarnya, apakah jeda ini akan berubah menjadi penghentian permanen atau sekadar waktu istirahat sebelum pertempuran yang lebih sengit? Trump telah menunjukkan bahwa pilihannya adalah diplomasi, namun palu godam militer masih terangkat di atas meja. Iran pun menunggu dengan penuh kecurigaan. Di tengah perang proksi yang meluas—dari Yaman hingga Selat Hormuz—dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua kubu.



