TNI Buka Suara Soal Tenda Prajurit di Lahan GRIB Jaya: Klarifikasi atau Cuma Salah Fokus?
Baca dalam 60 detik
- TNI AD menegaskan prajuritnya bertugas di lahan milik Kementerian Pertahanan, bukan di area yang diklaim GRIB Jaya.
- Foto yang beredar di media sosial dinilai menyesatkan karena sudut pengambilan gambar membuat papan nama ormas tampak menyatu dengan lokasi pengamanan.
- Insiden ini menyoroti potensi gesekan antar lembaga dan pentingnya verifikasi informasi di tengah maraknya klaim kepemilikan lahan.

Jakarta โ Keberadaan tenda dan sejumlah personel TNI AD di sebuah lahan kosong di Jakarta Pusat memicu spekulasi di media sosial setelah foto yang beredar menunjukkan lokasi tersebut berdekatan dengan papan bertuliskan pengawasan DPP GRIB Jaya. Namun, TNI AD dengan tegas membantah adanya keterkaitan antara pengamanan yang dilakukan dengan ormas tersebut.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen TNI Donny Pramono, mengklarifikasi bahwa prajurit yang terlihat dalam foto tengah menjalankan tugas pengamanan aset yang menjadi kewenangan Kementerian Pertahanan, khususnya Kodam Jaya/Jayakarta. "Keberadaan prajurit tersebut tidak terkait dengan GRIB Jaya," tegasnya saat dihubungi, Minggu (6/9/2026).
Menurut Donny, papan yang mencantumkan nama GRIB Jaya sebenarnya berada di lahan yang berbeda, meski bersebelahan langsung dengan tanah milik Kementerian Pertahanan. Kesalahpahaman muncul karena sudut pengambilan gambar dalam foto yang beredar membuat papan tersebut tampak seolah-olah berada dalam satu bidang dengan lokasi pengamanan. "Sudut pengambilan gambar dari arah tertentu menyebabkan papan tersebut terlihat seolah-olah berada dalam satu bidang dengan keberadaan prajurit," jelasnya.
Klarifikasi ini penting mengingat GRIB Jaya dikenal sebagai ormas yang kerap terlibat dalam isu pertanahan. Sebelumnya, beredar foto yang memperlihatkan tenda-tenda militer dan personel berseragam dinas di sebuah lahan kosong. Plang di lokasi menyebutkan bahwa lahan tersebut sedang dalam pengawasan tim hukum dan advokasi DPP GRIB Jaya, memicu asumsi bahwa TNI berada di atas lahan milik ormas tersebut.
Donny menegaskan bahwa tugas pengamanan yang dilakukan prajurit adalah bagian dari upaya penguasaan aset negara. "Jadi faktanya adalah para prajurit berada di atas lahan milik Kementerian Pertahanan RI c.q. Kodam Jaya/Jayakarta, dalam rangka melaksanakan tugas pengamanan dan penguasaan aset yang menjadi kewenangan Kemhan," ucapnya. Ia juga berharap klarifikasi ini dapat mencegah kesalahpahaman publik dan memastikan informasi yang beredar tidak menimbulkan persepsi yang merugikan.
Insiden ini menyoroti betapa cepatnya informasi dapat memicu kontroversi di era media sosial, terutama ketika menyangkut isu sensitif seperti kepemilikan lahan dan hubungan antara institusi negara dengan ormas. Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum tentu akurat.
Ke depan, transparansi dan komunikasi yang efektif antara TNI, ormas, dan masyarakat menjadi krusial untuk mencegah kesalahpahaman serupa. Pertanyaannya, akankah insiden ini mendorong dialog yang lebih konstruktif mengenai pengelolaan aset negara dan batas-batas kewenangan antar pihak? Atau justru meninggalkan residu ketidakpercayaan yang dapat mengganggu stabilitas sosial?



