Runtuhnya Bangunan di New Delhi Tewaskan Tiga Orang, Puluhan Mahasiswa Terjebak
Baca dalam 60 detik
- Insiden di kawasan Satya Niketan menewaskan tiga orang dan melukai belasan lainnya, dengan dugaan korban terjebak masih dalam pencarian.
- Bangunan yang sebagian besar dihuni mahasiswa itu diduga konstruksi ilegal, menyoroti lemahnya penegakan aturan bangunan di India.
- Pemerintah Delhi telah mengungsikan bangunan di sekitarnya dan berjanji melakukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab runtuhnya gedung.

Setidaknya tiga orang tewas dan sejumlah lainnya masih terjebak di bawah puing-puing setelah sebuah bangunan yang sebagian besar dihuni mahasiswa runtuh di kawasan Satya Niketan, New Delhi, pada Minggu (6/9). Tim penyelamat dengan alat berat masih berupaya mengevakuasi korban yang diduga mencapai belasan orang, sementara otoritas setempat belum memastikan jumlah pasti korban yang tertimbun.
Bangunan yang berlokasi di barat daya Ibu Kota India itu ambruk sekitar tengah hari, saat sebagian besar penghuni sedang beraktivitas. Menurut laporan media lokal, sembilan orang berhasil ditarik keluar dari reruntuhan, lima di antaranya dalam kondisi kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit. Kepala Menteri Delhi, Rekha Gupta, melalui unggahan di media sosial menyatakan keprihatinan mendalam dan menjamin upaya penyelamatan maksimal bagi korban serta bantuan cepat bagi keluarga terdampak.
Perdana Menteri Narendra Modi menyebut insiden ini sebagai peristiwa yang memilukan dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Pernyataan resmi dari kantornya menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk memberikan segala bantuan yang diperlukan dalam proses evakuasi dan pemulihan. Sementara itu, sebuah bangunan di sebelah lokasi kejadian telah dikosongkan karena dikhawatirkan ikut ambruk.
Kawasan Satya Niketan dikenal sebagai permukiman padat yang menampung ratusan mahasiswa universitas di Delhi. Sebagian besar gedung di area tersebut merupakan akomodasi sewa yang dikelola secara privat, sering kali tanpa memenuhi standar keselamatan yang layak. Praktik konstruksi ilegal dan bangunan yang tidak sesuai izin memang menjadi masalah kronis di kota-kota besar India, terutama yang menyasar pekerja migran dan pelajar dengan biaya terjangkau.
Insiden ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan bangunan di India. Sepanjang 2025, setidaknya 11 orang tewas dalam peristiwa serupa di distrik timur laut Delhi. Menurut para pengamat tata kota, akar masalahnya bukan hanya pada oknum pemilik bangunan, tetapi juga pada birokrasi perizinan yang rumit dan penegakan hukum yang longgar. Akibatnya, banyak gedung bertingkat didirikan tanpa uji kelayakan struktur, menjadikan keselamatan penghuni sebagai taruhan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kepatuhan terhadap standar bangunan. Di Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya, fenomena bangunan liar atau renovasi tanpa izin juga kerap ditemui, terutama di permukiman padat penduduk. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas tata kota di berbagai wilayah Indonesia seharusnya lebih proaktif melakukan audit struktural, khususnya menjelang musim hujan ketika risiko tanah longsor dan ambruknya bangunan meningkat.
"Setiap upaya yang memungkinkan sedang dilakukan untuk menyelamatkan mereka yang terjebak dan memberikan bantuan segera kepada keluarga yang terkena dampak," demikian pernyataan Rekha Gupta di media sosial.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi masih berlangsung. Tim penyelamat menggunakan alat berat untuk mengangkat puing-puing beton, sementara anjing pelacak dikerahkan untuk mendeteksi keberadaan korban. Belum ada pernyataan resmi mengenai penyebab pasti runtuhnya bangunan, namun dugaan awal mengarah pada lemahnya struktur bangunan dan kemungkinan pelanggaran izin mendirikan bangunan.
Pemerintah Delhi berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh dan memberikan kompensasi kepada keluarga korban. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: akankah tragedi berulang ini benar-benar mendorong reformasi kebijakan perumahan dan penegakan hukum yang lebih tegas di India? Atau akankah insiden serupa terus menjadi siklus tahunan yang memakan korban jiwa?



