Cody Rhodes Bongkar Kelemahan John Cena di Ring: Terlalu Berisik Saat Bertarung
Baca dalam 60 detik
- Cody Rhodes mengungkap bahwa John Cena tidak pernah menguasai teknik komunikasi pelan atau 'carny' di atas ring, yang lazim digunakan pegulat untuk menyusun gerakan secara diam-diam.
- Alih-alih berbisik, Cena justru meneriakkan setiap langkah pertarungan dengan keras, sebuah gaya yang ia sebut sebagai 'pengalaman interaktif' untuk penonton baris depan.
- Pengakuan ini muncul setelah Rhodes menjalani pertandingan terakhir melawan Cena di SummerSlam 2025, di mana ia nyaris celaka karena instruksi vokal yang terlalu gamblang.

Bintang WWE Cody Rhodes membuka tabir di balik layar pertarungannya dengan John Cena, mengungkap satu kelemahan mencolok yang tidak pernah diperbaiki legenda gulat profesional itu selama kariernya yang gemilang. Dalam wawancara di podcast Good Hang with Amy Poehler, Rhodes menyebut bahwa Cena—meski dijuluki 'Mr. Hustle, Loyalty, Respect'—gagal menguasai seni komunikasi ringan atau 'carny talk', bahasa rahasia yang biasa digunakan pegulat untuk berkoordinasi tanpa diketahui penonton.
Menurut Rhodes, sebagian besar pegulat WWE berusaha berkomunikasi dengan pelan atau bahkan tanpa suara saat berada di ring, menggunakan kode-kode tertentu untuk menyusun aksi berbahaya. Namun, Cena memilih pendekatan berbeda. "John meneriakkan semua yang akan terjadi di ring sekeras mungkin. Dia menyebutnya pengalaman interaktif untuk empat baris pertama," ujar Rhodes, menggambarkan gaya vokal Cena yang justru kontras dengan kebiasaan umum di industri gulat.
Kebiasaan ini, kata Rhodes, tetap dipertahankan Cena hingga pertarungan terakhir mereka di SummerSlam 2025, beberapa bulan sebelum Cena pensiun setelah kalah dari GUNTHER di Saturday Night's Main Event. Rhodes mengingat momen menegangkan saat Cena hendak melontarkannya dari satu meja ke meja lain dengan jurus andalan Attitude Adjustment. "Dia berteriak memberi instruksi, tapi lenganku menutupi matanya sehingga dia tidak bisa melihat. Aku hanya berpikir, 'Saya yang menjalani ini, lemparkan saja aku,'" kenang Rhodes, yang memilih diam karena menghormati Cena sebagai mentornya.
Selain soal teknis, Rhodes juga mengaku sempat ragu saat dilibatkan dalam heel turn Cena—transformasi karakter menjadi penjahat—setelah puluhan tahun Cena dikenal sebagai pahlawan. "Dia sangat bersemangat saat memelukku dan ekspresinya berubah. Tapi aku justru cemas karena dia belum pernah menjadi jahat sebelumnya. Aku tidak mau merusak momen besar itu," ungkapnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung WWE, terdapat disiplin teknis yang jarang terlihat oleh penonton. Komunikasi yang salah bisa berakibat cedera serius, terutama dalam aksi berbahaya seperti lompatan dari meja. Rhodes menegaskan bahwa meski Cena adalah salah satu pegulat terhebat, kelemahan kecil seperti ini menunjukkan bahwa tidak ada atlet yang sempurna.
Bagi penggemar gulat di Indonesia, pengakuan Rhodes membuka perspektif baru tentang kompleksitas olahraga ini. Di tengah maraknya tayangan WWE di televisi nasional, cerita di balik layar seperti ini memperkaya apresiasi terhadap seni pertunjukan yang memadukan atletisitas dan akting. Pertanyaannya, akankah generasi pegulat masa depan belajar dari 'kekurangan' Cena—atau justru menjadikan gaya teriaknya sebagai ciri khas baru?



