Dari Tukang Listrik di Apartemen Hazard ke Gelar Juara Dunia: Kisah Hamzah Sheeraz
Baca dalam 60 detik
- Hamzah Sheeraz, petinju Inggris tak terkalahkan, mengawali karier setelah terinspirasi saat bekerja sebagai teknisi listrik di apartemen Eden Hazard.
- Ia merebut gelar WBO kelas menengah super pada Mei lalu dan akan mempertahankannya di laga undercard Anthony Joshua di Arab Saudi.
- Sheeraz bermimpi bertarung melawan Canelo Alvarez, yang dianggapnya sebagai idola sekaligus rival potensial.

Hamzah Sheeraz, petinju kelas menengah super Inggris yang belum terkalahkan, menemukan panggilan juaranya bukan di atas ring, melainkan saat mengganti bola lampu di apartemen megah mantan bintang Chelsea, Eden Hazard. Momen itulah yang mengubah hidupnya dari seorang teknisi listrik magang menjadi pemegang sabuk WBO dalam waktu kurang dari satu dekade.
Sheeraz, 27 tahun, sempat meninggalkan dunia tinju setelah gagal di Kejuaraan Pemuda Persemakmuran. Ia kemudian bekerja sebagai asisten teknisi listrik, termasuk mengerjakan instalasi di kediaman Hazard di London. "Saya sedang memperbaiki lampu dan soket di apartemen Eden Hazard, dan tiba-tiba ego serta ambisi saya muncul kembali," kenang Sheeraz kepada BBC Sport. Dua pekan setelah momen itu, ia kembali ke sasana, dan tak lama kemudian menjadi sparring partner petinju profesional. Rekomendasi dari mulut ke mulut membawanya bergabung dengan promotor Frank Warren di Queensberry, tepat pada ulang tahunnya yang ke-18.
Perjalanan Sheeraz mencapai puncak pada Mei lalu saat ia mengalahkan Alem Begic melalui TKO ronde kedua untuk merebut gelar WBO kelas menengah super. Kini, ia bersiap untuk laga pertama mempertahankan gelar melawan Simon Zachenhuber, yang akan menjadi bagian dari undercard duel Anthony Joshua di Arab Saudi, Sabtu ini. Rekor profesional Sheeraz saat ini adalah 23 kemenangan (19 KO) dan satu hasil imbang.
Meski telah mencapai impian menjadi juara dunia, Sheeraz tidak berpuas diri. Ia mengincar duel melawan legenda hidup tinju Meksiko, Saul 'Canelo' Alvarez, yang telah menjadi juara dunia di empat kelas berbeda. "Saya sangat menginginkannya. Banyak orang mendengar saya mengatakannya," ujar Sheeraz. "Saya sadar dia yang memilih lawan karena dia telah berhak. Akan menjadi momen yang luar biasa jika saya bisa bertarung dengannya. Saya telah menontonnya sejak kecil, belajar darinya, dan kini mendapat kesempatan untuk melawannya. Ini seperti pepatah: ketika idola Anda menjadi rival Anda."
Keyakinan Sheeraz akan takdir besarnya terus membara. "Saya tahu saya ada di sini karena suatu alasan. Kerja keras, Tuhan, tim, dan keluarga telah membawa saya sejauh ini. Saya percaya panggilan sejati saya belum tiba. Saya bisa merasakannya datang," tegasnya.
Bagi penggemar tinju Indonesia, kisah Sheeraz menjadi pengingat bahwa jalan menuju kesuksesan sering kali dimulai dari titik terendah. Di tengah maraknya promotor dan petinju Tanah Air yang berjuang di kancah internasional, perjalanan Sheeraz bisa menjadi inspirasi bahwa latar belakang sederhana bukanlah halangan untuk meraih gelar dunia. Pertanyaannya, akankah ada petinju Indonesia yang mampu mengikuti jejak serupa?



