Kredit ke Pemerintah dan BUMN Melonjak 41,6%, Bank Mandiri Jadi Motor Pembiayaan Nasional
Baca dalam 60 detik
- Penyaluran kredit Bank Mandiri ke sektor pemerintah dan BUMN tumbuh 41,6% yoy pada kuartal II-2026, jauh di atas rata-rata industri.
- Lonjakan ini didorong oleh program strategis nasional di bidang energi, ketahanan pangan, dan KUR, serta didukung kondisi fiskal yang solid.
- Dengan NPL hanya 0,15% dan pertumbuhan DPK 17,1%, ekspansi kredit agresif tetap diimbangi manajemen risiko yang ketat.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan pertumbuhan kredit ke ekosistem pemerintahan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 41,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026, menjadikannya motor utama di balik total penyaluran kredit perseroan yang mencapai Rp1.592 triliun. Angka tersebut tumbuh 19,9% yoy, hampir dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengungkapkan bahwa lonjakan ini tidak terlepas dari peran perseroan dalam mendukung berbagai program strategis nasional. Menurutnya, penyaluran kredit ke sektor publik memberikan dampak langsung terhadap peningkatan layanan publik, terutama di bidang energi, ketahanan pangan, dan pembiayaan produktif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). "Pemberian kredit ini berdampak langsung pada peningkatan layanan publik. Berbagai layanan strategis energi, ketahanan pangan, kami dukung sepenuhnya, termasuk program pembiayaan produktif seperti KUR," ujar Riduan dalam paparan kinerja kuartalan secara daring, Kamis (23/7/2026).
Riduan menjelaskan bahwa momentum ini sejalan dengan kondisi fiskal pemerintah yang semakin solid pada kuartal II-2026, di mana penerimaan dan belanja negara sama-sama mengalami akselerasi. Hal ini memberi ruang lebih besar bagi pemerintah untuk mendorong program prioritas sekaligus membuka peluang sinergi pembiayaan bagi perbankan nasional. "Dengan demikian, pemerintah tidak hanya mampu, tapi mendorong ekonomi," katanya, menambahkan bahwa kebijakan moneter yang suportif turut menjaga keseimbangan stabilitas makroekonomi dan keberlanjutan pertumbuhan.
Selain segmen pemerintah dan BUMN, Bank Mandiri juga mencatat pertumbuhan kredit yang solid pada dua ekosistem lain. Ekosistem bisnis penopang ekonomi tumbuh 17,7% yoy, di mana perseroan berperan sebagai mitra strategis perusahaan-perusahaan besar nasional. Sementara itu, ekosistem UMKM kerakyatan tumbuh 15,7% yoy sebagai upaya mendorong pemerataan akses pembiayaan. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa Bank Mandiri tidak hanya bergantung pada satu sektor, melainkan merata di berbagai lini ekonomi.
Di tengah ekspansi kredit yang agresif, Bank Mandiri tetap menjaga disiplin dalam pengelolaan risiko. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perseroan tercatat hanya 0,15%, jauh di bawah rata-rata industri. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 17,1% yoy, juga di atas level pertumbuhan industri. Menurut Riduan, hal ini mencerminkan tingkat kepercayaan nasabah yang tetap tinggi terhadap perseroan. "Kinerja dan fundamental solid tersebut membuat kami optimistis Bank Mandiri dapat menghadirkan kontribusi yang positif, sehat, dan signifikan dalam memperkuat sekaligus mendorong ekonomi nasional yang berkelanjutan," tutupnya.
Bagi pelaku pasar dan investor, pertumbuhan kredit yang didorong oleh sektor pemerintah dan BUMN memberikan sinyal positif terhadap prospek pendapatan bunga bersih Bank Mandiri. Namun, perlu dicermati apakah laju ekspansi ini dapat berlanjut seiring dengan potensi perubahan kebijakan fiskal atau moneter ke depan. Dengan NPL yang sangat rendah dan likuiditas yang kuat, Bank Mandiri tampaknya memiliki bantalan yang memadai untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global.



