Bencana Himalaya: Korban Tewas di Tibet Capai 43 Orang, 519 Hilang
Baca dalam 60 detik
- Jumlah korban tewas di sisi Tibet akibat banjir bandang dan longsor di kawasan Himalaya meningkat menjadi 43, dengan 519 orang masih belum ditemukan.
- Bencana yang dipicu runtuhnya gletser pada 26 Agustus ini telah menewaskan hampir 1.400 orang di China dan Nepal, menyisakan tantangan besar bagi tim penyelamat.
- Para ahli memperingatkan angka korban bisa terus bertambah karena material longsor dan arus deras berpotensi mengubur atau menghanyutkan korban jauh dari lokasi awal.

Bencana dahsyat yang melanda kawasan perbatasan China-Nepal di Pegunungan Himalaya terus memakan korban. Otoritas setempat melaporkan jumlah korban tewas di wilayah Tibet meningkat menjadi 43 orang, sementara 519 lainnya masih dinyatakan hilang. Angka ini naik dari laporan sebelumnya yang mencatat 31 korban tewas, menurut pemberitaan media pemerintah China pada Minggu (6/9).
Banjir bandang dan longsor yang dipicu runtuhnya gletser pada 26 Agustus lalu telah menimbulkan kehancuran luar biasa di kedua sisi perbatasan. Secara keseluruhan, bencana ini telah merenggut hampir 1.400 nyawa dan menyebabkan lebih dari 5.500 orang hilang di China dan Nepal. Kesenjangan yang mencolok antara jumlah korban tewas dan yang hilang menjadi indikasi betapa beratnya upaya pencarian yang harus dilakukan tim penyelamat di medan yang sulit.
Wilayah terdampak, seperti Pelabuhan Gyirong yang terletak di pedalaman Himalaya, merupakan area terpencil dengan akses terbatas. Tim penyelamat harus berjuang menembus puing-puing dan lumpur untuk menjangkau korban. Namun, kondisi geografis yang ekstrem dan risiko longsor susulan membuat operasi kemanusiaan berjalan lambat dan penuh tantangan.
Para ahli yang memantau situasi ini sebelumnya menyampaikan bahwa jumlah korban sebenarnya mungkin baru akan diketahui dalam waktu yang lebih lama. Material longsor yang terbawa banjir diperkirakan telah mengubur banyak korban, sementara arus deras juga berpotensi menghanyutkan korban hingga beberapa kilometer ke hilir. Hal ini mempersulit proses identifikasi dan pencarian, serta menambah beban psikologis bagi keluarga yang menunggu kabar.
Bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim. Mencairnya gletser secara cepat meningkatkan risiko terjadinya longsor dan banjir bandang di lembah-lembah padat penduduk. Bagi Indonesia, yang juga memiliki wilayah pegunungan tinggi dan rawan bencana hidrometeorologi, kejadian ini menegaskan pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana serupa.
Pemerintah China dan Nepal telah mengerahkan personel dan peralatan untuk mempercepat evakuasi dan pencarian korban. Namun, hingga kini, operasi penyelamatan masih terus berlangsung dan belum ada kepastian mengenai nasib ratusan orang yang hilang. Pertanyaan mendasar yang mengemuka adalah seberapa efektif upaya mitigasi bencana yang selama ini dilakukan di kawasan rawan tersebut, dan apakah tragedi ini akan mendorong langkah konkret untuk memperkuat ketahanan daerah terhadap ancaman serupa di masa depan.



