Iran Klaim Serang Kapal AS di Selat Hormuz, Eskalasi Baru di Tengah Runtuhnya Negosiasi
Baca dalam 60 detik
- Teheran mengaku menghantam kapal nirawak Amerika yang berupaya memasuki Selat Hormuz, memicu gelombang baru ketegangan militer.
- Serangan ini terjadi setelah militer AS menargetkan tiga kapal tanker minyak Iran sebagai balasan atas rudal yang diluncurkan ke kapal perangnya.
- Dengan perundingan yang buntu, Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan berdampak pada harga minyak di Indonesia.

Teheran, Minggu, mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sebuah kapal nirawak milik Amerika Serikat yang berupaya memasuki Selat Hormuz. Klaim ini menjadi babak terbaru dalam eskalasi konflik yang kembali memanas antara Iran dan AS, setelah sebelumnya sempat mereda selama sekitar sebulan terakhir.
Pemerintah AS belum memberikan konfirmasi resmi atas insiden tersebut. Namun, sehari sebelumnya, militer Amerika menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran sebagai respons atas serangan rudal yang ditujukan ke kapal-kapal perang Angkatan Laut AS. Aksi balas-membalas ini menandai dimulainya kembali pertempuran yang sempat terhenti, dengan kedua pihak berupaya saling menekan baik secara militer maupun ekonomi.
Konflik yang berakar dari serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu ini sebenarnya telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Juni. Akan tetapi, gencatan tersebut tidak bertahan lama; pertempuran sporadis terus berlanjut seiring runtuhnya negosiasi yang sempat diharapkan dapat meredakan ketegangan. Pekan lalu, kekerasan kembali meletus, menargetkan Selat Hormuz dan komunitas-komunitas di sepanjang wilayah tersebut. Setidaknya lima orang dilaporkan tewas dalam bombardir AS di Iran selatan pada awal pekan.
Administrasi Trump tampaknya mengadopsi pendekatan dua jalur dalam konflik ini. Di satu sisi, mereka merespons secara militer setiap serangan yang mengancam Selat Hormuz. Di sisi lain, Washington gencar menekan lembaga keuangan asing yang diduga menjadi saluran transaksi keuangan Iran. Langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk melumpuhkan ekonomi Iran, yang selama ini menjadi sasaran utama sanksi internasional.
Meski demikian, kepemimpinan baru Iran yang dikenal garis keras menunjukkan sikap bertahan. Setelah puluhan tahun menghadapi sanksi, Teheran dinilai telah mahir mencari celah untuk tetap menjual minyaknya. Salah satu andalannya adalah penggunaan armada kapal bayangan yang sulit dilacak, guna mengirim minyak ke pembeli di berbagai negara dan meredakan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Isu program nuklir Iran, yang menjadi pemicu awal perang, kini kembali mengemuka. Negosiasi yang sempat difasilitasi melalui nota kesepahaman pada pertengahan Juni ternyata gagal membuahkan hasil. Para diplomat menyebut AS, Inggris, Prancis, dan Jerman berupaya membawa Iran ke Dewan Keamanan PBB karena dinilai melanggar kewajiban nonproliferasi nuklirnya. Namun, Teheran tampaknya lebih memilih menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar utama, mengingat jalur air tersebut merupakan urat nadi pasokan minyak dan gas dunia.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz bukan sekadar berita internasional. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gejolak di jalur tersebut berpotensi mendongkrak harga minyak mentah global, yang pada akhirnya akan membebani anggaran subsidi energi dan harga BBM di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini, terutama dalam merumuskan kebijakan energi jangka pendek.
Pertanyaannya kini, mampukah kedua belah pihak menahan diri sebelum konflik meluas menjadi perang terbuka yang lebih dahsyat? Atau justru Selat Hormuz akan menjadi medan pertempuran yang semakin tidak terkendali, mengancam stabilitas kawasan dan ekonomi global?



