Michael J. Fox Diam-diam Bergabung ke Forum Parkinson untuk Menguji Respons Publik
Baca dalam 60 detik
- Aktor Back to the Future itu menyusup ke ruang obrolan pasien Parkinson secara anonim setelah mengumumkan diagnosisnya pada 1998.
- Keputusan Fox untuk terbuka justru memicu reksi bercampur dari komunitas penyintas, termasuk ledekan sinis yang ia terima.
- Yayasan yang ia dirikan kini menjadi salah satu motor riset Parkinson global, sementara istrinya terus menanggung beban emosional.

Michael J. Fox, aktor yang dikenal lewat trilogi Back to the Future, mengaku pernah menyusup secara anonim ke forum-forum diskusi daring bagi penderita Parkinson. Tujuannya sederhana: mengukur bagaimana komunitas penyintas bereaksi terhadap keputusannya berbicara terbuka tentang penyakit yang dideritanya sejak 1991.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Fox—yang kini berusia 65 tahun—menceritakan bahwa ia bergabung ke ruang obrolan tersebut tanpa menggunakan identitas asli. Langkah itu diambil tak lama setelah ia mengumumkan diagnosis Parkinson-nya ke publik pada 1998, tujuh tahun setelah pertama kali didiagnosis. “Saya paham, saat itu orang tidak akan pernah mengaku mengidap Parkinson dalam sejuta tahun pun,” ujarnya.
Namun, respons yang ia terima tidak sepenuhnya seperti yang dibayangkan. Alih-alih simpati, sebagian anggota forum justru menyambut pengakuannya dengan nada sinis. “Saya berpikir, ‘Yah, persetan! Saya mengidap Parkinson, dan kalian malah merayakannya’,” kenang Fox. Momen itu justru membuka matanya tentang betapa kompleksnya stigma dan penerimaan dalam komunitas penyintas.
Keputusan untuk terbuka tidak hanya berdampak pada dirinya. Tracy Pollan, istrinya yang juga aktris, harus menanggung beban emosional yang berat. “Itu neraka baginya, benar-benar sulit—dan masih terus berubah,” ungkap Fox. Ia mengaku sempat berkata kepada Pollan, “Aku harus menjalani ini sepenuhnya. Tidak ada setengah-setengah.” Baginya, kerentanan adalah harga yang harus dibayar untuk menormalkan penyakit yang masih diselimuti tabu.
Di Indonesia, Parkinson sering kali tidak terdiagnosis dini karena minimnya kesadaran dan akses ke neurolog. Kisah Fox menjadi pengingat bahwa figur publik dapat memainkan peran penting dalam mendorong diskusi terbuka tentang penyakit degeneratif. Yayasan yang ia dirikan, Michael J. Fox Foundation for Parkinson’s Research, telah menjadi salah satu lembaga riset swasta terbesar di bidangnya, mendanai proyek-proyek mulai dari terapi gen hingga biomarker baru.
“Ketika orang melihat atau berbicara dengan saya, ada koneksi yang tidak akan ada sebelumnya. Ada pemahaman.” — Michael J. Fox, dalam wawancara dengan yayasannya, Februari 2025.
Meski kondisi fisiknya terus memburuk—gejala seperti tremor, kaku otot, dan gangguan keseimbangan semakin nyata—Fox bersikukuh menjaga selera humornya. “Sulit, tapi saya harus menjaganya tetap utuh,” katanya kepada People. Sikap itu pula yang membuatnya tetap aktif sebagai advokat, meski harus berhenti dari dunia akting pada 2020.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya menemukan obat, melainkan juga mengubah cara masyarakat memandang Parkinson. Fox telah membuktikan bahwa diagnosis bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan yang lebih bermakna. Apakah kesediaan figur publik untuk terbuka akan mendorong lebih banyak penyintas di Indonesia untuk angkat bicara? Jawabannya masih menunggu.



