Rekor Transfer Gelandang Inggris: Bukan Karena Gila Belanja, Tapi Dompet Lebih Tebal
Baca dalam 60 detik
- Elliot Anderson dan Morgan Rogers memecahkan rekor pemain termahal Inggris dalam satu bulan, dengan nilai transfer masing-masing £116 juta dan £117 juta.
- Kombinasi aturan homegrown, kelangkaan striker murni, dan ledakan pendapatan klub Premier League menjadi pendorong utama meroketnya harga gelandang muda Inggris.
- Alex Scott dan Adam Wharton diprediksi menjadi kandidat berikutnya yang akan pindah dengan nilai fantastis, menyusul jejak Anderson dan Rogers.

Dalam rentang waktu sebulan, dua gelandang muda Inggris, Elliot Anderson dan Morgan Rogers, secara beruntun memecahkan rekor sebagai pemain termahal asal Britania Raya sepanjang masa. Anderson pindah dari Nottingham Forest ke Manchester City dengan nilai £116 juta, disusul Rogers yang ditebus Chelsea dari Aston Villa sebesar £117 juta. Keduanya masih berusia 23 tahun dan diyakini belum mencapai puncak karier.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa gelandang Inggris begitu mahal dan diminati? Jawabannya tidak sesederhana "gila transfer". Analis sepak bola keuangan Kieran Maguire menggarisbawahi bahwa nilai transfer yang terus memecahkan rekor sebenarnya proporsional dengan pendapatan klub. Pada musim perdana Premier League 1992-93, rata-rata pendapatan klub hanya £9,3 juta, dan pembelian termahal saat itu—Alan Shearer seharga £3,3 juta—setara 35% dari pendapatan rata-rata. Musim 2024-25, pendapatan rata-rata klub melonjak menjadi £342 juta; 35% dari angka itu adalah £121 juta, nyaris sama dengan harga Anderson dan Rogers. Artinya, klub tidak tiba-tiba boros, melainkan kemampuan finansial mereka memang meningkat drastis.
Selain faktor ekonomi, perubahan taktik global juga berperan. Punahnya penyerang nomor sembilan tradisional membuat klub beralih ke gelandang untuk menyumbang gol dan kreativitas. Anderson dan Rogers adalah contoh sempurna: Anderson memimpin statistik sentuhan (3.300), duel dimenangkan (297), dan umpan terobosan (376) di Premier League musim lalu, sementara Rogers mencatat 14 gol dan 12 assist di semua kompetisi, serta menempati peringkat kedua di lima liga top Eropa untuk sentuhan di kotak penalti lawan (181).
Aturan homegrown Premier League—yang mewajibkan minimal delapan pemain lokal dalam skuad 25 pemain—turut mendongkrak harga. Klub rela membayar mahal untuk pemain yang lulus dari akademi FA karena memenuhi kuota dan memiliki kualitas terbukti. Tottenham, misalnya, telah menggelontorkan £185 juta untuk duet gelandang Sandro Tonali dan Matheus Fernandes musim panas ini, meski keduanya bukan pemain Inggris.
Kesuksesan Anderson dan Rogers membuka peluang bagi gelandang muda Inggris lainnya. Bournemouth dikabarkan menolak tawaran £64 juta dari Chelsea untuk Alex Scott, gelandang 22 tahun yang mulai menonjol sejak Januari lalu. Scott sudah masuk skuad Inggris pada November lalu dan dipanggil dalam kamp pelatihan pra-Piala Dunia di Florida, meski belum tampil di level senior. Sementara itu, Adam Wharton dari Crystal Palace juga menjadi incaran Liverpool, Chelsea, dan Manchester City. Keduanya, yang sama-sama berusia 22 tahun, menunjukkan betapa melimpahnya bakat gelandang Inggris yang siap dijual dengan harga puncak.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan usia dini dan regulasi yang mendorong klub mengembangkan pemain lokal. Aturan homegrown ala Premier League bisa menjadi referensi bagi Liga Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual pemain nasional. Jika Indonesia serius membangun ekosistem sepak bola, kombinasi antara pembinaan akademi dan kebijakan kuota pemain lokal dapat menciptakan generasi emas yang tidak hanya memperkuat timnas, tetapi juga menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar global.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi "siapa selanjutnya?", melainkan seberapa jauh batas atas harga gelandang Inggris akan melambung. Dengan pendapatan klub yang terus bertumbuh dan permintaan yang tak kunjung surut, rekor baru sepertinya hanya soal waktu. Akankah Alex Scott atau Adam Wharton menjadi yang berikutnya menembus angka £150 juta? Atau mungkinkah pemain Indonesia suatu hari nanti bisa menyusul jejak mereka?



