Monsoon Pakistan Tewaskan 37 Orang: Banjir Bandang dan Longsor Melumpuhkan Empat Provinsi
Baca dalam 60 detik
- Hujan monsun yang mengguyur Pakistan sejak 19 Juli telah menewaskan sedikitnya 37 orang di Khyber Pakhtunkhwa dan Punjab, dengan kerusakan rumah, lahan pertanian, dan infrastruktur.
- India disebut meningkatkan pelepasan air tanpa konfirmasi resmi, memperparah banjir di Sungai Chenab yang mencapai level siaga di beberapa bendung.
- Badan meteorologi Pakistan memperingatkan potensi banjir bandang dari danau glasial di Gilgit-Baltistan hingga 26 Juli, mengancam keselamatan warga dan wisatawan.

Hujan monsun yang melanda Pakistan sejak akhir pekan lalu telah merenggut sedikitnya 37 jiwa di empat provinsi, memicu banjir bandang dan tanah longsor yang merusak ribuan rumah, lahan pertanian, dan infrastruktur vital. Otoritas penanggulangan bencana setempat mencatat angka kematian tertinggi di Khyber Pakhtunkhwa (20 orang) dan Punjab (17 orang), sementara wilayah Gilgit-Baltistan serta Azad Jammu dan Kashmir juga mengalami kerusakan parah.
Di Khyber Pakhtunkhwa, dua pria dilaporkan tenggelam terseret banjir bandang di Sungai Tochi, Distrik Waziristan Utara. Juru bicara Rescue 1122, Noor Islam, menyebutkan bahwa tinggi muka air sungai tersebut mencapai level luar biasa. Sebelumnya, sebuah keluarga beranggotakan empat orang—termasuk dua anak-anak—tewas saat atap rumah mereka runtuh di Sararogha, Waziristan Selatan Atas. Badan Penanggulangan Bencana Provinsi (PDMA) KP menyatakan bahwa hingga Rabu, 23 rumah rusak sebagian dan 7 hancur total, serta 13 ekor ternak mati dalam empat hari terakhir.
Sementara itu, di Punjab, hujan deras mengguyur Kota Gujranwala dengan rekor 245 mm, disusul Sialkot (139 mm) dan Lahore (123 mm). Dari 17 korban jiwa di provinsi ini, 12 orang meninggal akibat runtuhnya bangunan, 2 karena sambaran petir, dan 3 akibat tersengat listrik. PDMA mencatat kenaikan debit Sungai Chenab yang signifikan: di Bendung Marala, aliran masuk melonjak dari 84.895 cusec pada Selasa pagi menjadi 275.608 cusec pada Rabu malam. Meski demikian, PDMA membantah rumor yang beredar di media sosial tentang gelombang banjir 900.000 cusec di sungai tersebut.
Di Gilgit-Baltistan, hujan deras disertai awan pecah (cloudburst) memicu banjir bandang dan longsor di Desa Losbala, Distrik Astore. Jalan Lembah Astore ditutup setelah longsor besar di Kachek mengikis badan jalan. Otoritas setempat mengimbau warga dan wisatawan untuk tidak bepergian jika tidak mendesak. Beberapa pelancong dilaporkan terdampar. Kepala Badan Manajemen Bencana Gilgit-Baltistan (GBDMA) menyebutkan bahwa pencairan gletser yang cepat memperparah kenaikan muka air sungai, mengancam jembatan di Jalan Lembah Shimshal dan jembatan gantung di Bagrot.
Fenomena ini mengingatkan pada pola cuaca ekstrem yang kerap melanda Asia Selatan saat musim monsun. Bagi Indonesia, meski tidak terdampak langsung, perubahan iklim global meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi serupa di kawasan tropis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia sebelumnya telah memperingatkan potensi peningkatan curah hujan ekstrem akibat fenomena IOD negatif dan La Nina lemah. Masyarakat Indonesia perlu waspada terhadap risiko banjir bandang dan longsor, terutama di daerah rawan seperti Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Kalimantan.
Meteorologi Pakistan memperkirakan hujan masih akan berlangsung hingga 23 Juli di Khyber Pakhtunkhwa, sementara potensi banjir bandang dari danau glasial (GLOF) di Gilgit-Baltistan diprediksi terjadi hingga 26 Juli. Pertanyaan yang mengemuka: seberapa siap sistem peringatan dini dan infrastruktur penanggulangan bencana di Pakistan—dan negara-negara Asia lainnya—menghadapi intensitas monsun yang kian tidak menentu akibat perubahan iklim?



