Erupsi Gunung Anak Krakatau Melumpuhkan 27 Penerbangan di Sumatera: Ini Daftar Rute Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 27 penerbangan di Palembang dan Bengkulu terganggu akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, dengan mayoritas pembatalan demi keselamatan.
- Maskapai seperti Lion Air, Garuda Indonesia, dan Citilink terkena imbas, sementara dua penerbangan sempat tertunda karena kabut asap yang memperburuk jarak pandang.
- Otoritas bandara terus memantau kondisi, dan jumlah penerbangan terdampak berpotensi berubah seiring perkembangan erupsi dan arah angin.

Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengganggu lalu lintas udara, kali ini melumpuhkan puluhan jadwal penerbangan di dua bandara utama Sumatera bagian selatan pada Minggu pagi (6/9/2026). Sebanyak 27 penerbangan yang berangkat maupun tiba di Palembang dan Bengkulu terpaksa ditunda atau dibatalkan, menyusul sebaran abu vulkanik yang menyelimuti ruang udara dan memicu penutupan sementara operasional di sejumlah bandara, termasuk Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.
Dampak paling terasa di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, di mana 13 penerbangan terkena imbas. General Manager bandara, Ahmad Syaugi Shahab, mengonfirmasi bahwa dua di antaranya hanya mengalami keterlambatan, sementara 11 lainnya dibatalkan total. Yang menarik, dua penerbangan yang delay—Lion Air JT246 dan Super Air Jet IU302, keduanya menuju Jakarta—bukan semata-mata akibat abu vulkanik, melainkan karena kabut asap yang menurunkan jarak pandang di bawah batas minimum 500 meter. Ini menunjukkan kompleksitas tantangan navigasi udara di Sumatera, di mana faktor alam dan polusi kebakaran hutan kerap beririsan.
Sementara itu, Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu mencatatkan 14 penerbangan yang dibatalkan. Langkah ini diambil sebagai protokol keselamatan standar, sebagaimana ditegaskan oleh manajemen bandara: pembatalan dilakukan untuk menghindari risiko masuknya partikel abu ke dalam mesin pesawat yang dapat membahayakan penerbangan. Keputusan serupa juga berlaku di Bandara Soekarno-Hatta, yang sempat menghentikan operasionalnya karena indikasi sebaran abu di sekitar kawasan bandara, menandakan bahwa dampak erupsi ini menjalar hingga ke jantung penerbangan nasional.
Daftar penerbangan yang dibatalkan di Palembang mencakup rute domestik utama, termasuk Palembang–Jakarta yang dilayani oleh Super Air Jet IU921, Pelita Air IP311, Garuda Indonesia GA107, dan Citilink QG987 serta QG985. Ada pula rute ke Halim Perdanakusuma via Indonesia AirAsia ID7054 dan ke Pekanbaru via Super Air Jet SI7296. Untuk penerbangan kedatangan, maskapai seperti Pelita Air IP310, Garuda Indonesia GA102, Super Air Jet IU922, dan Citilink QG984 ikut terdampak. Di Bengkulu, pembatalan serupa terjadi, meski rincian maskapai belum diumumkan secara lengkap.
Bagi para pelaku industri dan penumpang, kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan konektivitas udara Indonesia terhadap bencana geologi. Gunung Anak Krakatau, yang terletak di antara Lampung dan Banten, memang dikenal aktif dan erupsinya kerap memicu gangguan penerbangan di wilayah barat Indonesia. Namun, yang patut dicermati adalah efek domino yang ditimbulkan: penutupan bandara di Jakarta—sebagai hub utama—tidak hanya mengganggu rute langsung dari Sumatera, tetapi juga berpotensi menunda koneksi internasional dan domestik lainnya yang bergantung pada jadwal transit di ibu kota.
Manajemen bandara di Palembang dan Bengkulu menyatakan akan terus memantau kondisi cuaca, jarak pandang, dan pergerakan abu vulkanik secara real-time. Mereka juga membuka saluran komunikasi dengan maskapai untuk memperbarui status penerbangan. Penumpang yang terdampak disarankan untuk menghubungi maskapai masing-masing untuk informasi lebih lanjut mengenai pengubahan jadwal atau pengembalian tiket. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari otoritas vulkanologi mengenai durasi erupsi, namun riwayat aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan bahwa gangguan serupa dapat berlangsung selama beberapa hari hingga pekan.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat maskapai dan otoritas bandara dapat memulihkan operasional penuh, dan apakah industri penerbangan perlu menyusun protokol yang lebih adaptif untuk menghadapi kejadian serupa di masa depan. Dengan frekuensi erupsi yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan akan sistem peringatan dini dan manajemen risiko yang lebih terintegrasi menjadi semakin mendesak—bukan hanya untuk keselamatan, tetapi juga untuk menjaga stabilitas ekonomi yang bergantung pada mobilitas udara.



