Texas Instruments Optimistis Pendapatan Tumbuh Berkat Ledakan AI dan Pemulihan Industri
Baca dalam 60 detik
- Produsen chip analog Texas Instruments memproyeksikan pendapatan kuartal ketiga di atas ekspektasi pasar, didorong belanja infrastruktur AI dan pemulihan sektor industri serta otomotif.
- Pendapatan kuartal kedua mencapai 5,46 miliar dolar AS, naik 23 persen secara tahunan, melampaui estimasi analis berkat permintaan dari pusat data, otomotif, dan pasar industri.
- Meski prospek cerah, saham perusahaan justru turun lebih dari 3 persen dalam perdagangan lanjutan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap valuasi dan risiko rantai pasok global.

Texas Instruments (TI) memproyeksikan pendapatan kuartal ketiga melampaui perkiraan analis, menandakan bahwa belanja besar-besaran pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI) serta pemulihan di pasar industri dan otomotif mulai mengerek permintaan chip analog. Perusahaan yang berbasis di Dallas, Texas itu memperkirakan pendapatan kuartal Juli-September berada di kisaran 5,65 miliar hingga 6,15 miliar dolar AS, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 5,61 miliar dolar AS.
Pendorong utama optimisme ini adalah investasi agresif perusahaan teknologi global dalam membangun pusat data dan mengamankan pasokan chip. Meskipun TI tidak memproduksi prosesor AI berperforma tinggi seperti buatan Nvidia, chip analog buatannya memegang peran krusial: mengelola daya dan mengubah input dunia nyata—seperti suara, cahaya, dan suhu—menjadi sinyal digital yang dapat diolah semikonduktor lain. Dengan kata lain, setiap server AI tetap membutuhkan komponen analog TI untuk beroperasi efisien.
Pada kuartal kedua tahun ini, TI mencatat pendapatan 5,46 miliar dolar AS, melonjak 23 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan mengalahkan estimasi rata-rata analis sebesar 5,25 miliar dolar AS. Menurut CEO Haviv Ilan, pertumbuhan tersebut didorong oleh permintaan luas di segmen industri, pusat data, dan otomotif. “Kami melihat penguatan di ketiga sektor utama tersebut,” ujar Ilan dalam konferensi dengan analis setelah rilis laporan keuangan.
Analis Stifel, Tore Svanberg, menyebut hasil ini sebagai “bukti kuatnya lingkungan semikonduktor analog” yang didorong oleh pembangunan infrastruktur AI, pemulihan pasar akhir yang meluas, serta adopsi awal AI di perangkat tepi (Edge AI). Ia memperkirakan tren ini akan berlanjut hingga paruh kedua 2026 dan memasuki 2027. Namun, di sisi lain, saham TI justru terkoreksi lebih dari 3 persen dalam perdagangan lanjutan, mengindikasikan bahwa investor mungkin sudah memperhitungkan optimisme tersebut atau khawatir terhadap tekanan margin dan ketidakpastian rantai pasok global.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, meningkatnya permintaan chip analog dapat membuka peluang ekspor bagi produsen komponen elektronik dalam negeri yang menjadi bagian dari rantai pasok global. Di sisi lain, ketergantungan Indonesia pada impor semikonduktor—terutama untuk sektor otomotif dan elektronik konsumen—berpotensi membuat harga perangkat akhir ikut terpengaruh jika pasokan global terganggu. Pemerintah Indonesia sendiri tengah mendorong hilirisasi industri semikonduktor melalui investasi di kawasan industri Batam dan Kalimantan, namun realisasinya masih membutuhkan waktu.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah momentum pertumbuhan TI dapat bertahan di tengah ketegangan geopolitik AS-China yang masih membayangi rantai pasok chip global. Dengan proyeksi positif hingga 2027, TI tampaknya optimistis, tetapi pasar tetap waspada terhadap potensi perlambatan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa yang dapat menekan permintaan akhir.



