Prabowo Lantik Kepala BGN dan Gubernur URI di Istana Negara
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala BGN serta Donny Ermawan Taufanto dan Yos Sunitiyoso sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur URI di Istana Negara, Rabu (22/7/2026).
- Pelantikan ini menandai penguatan struktur organisasi di dua lembaga strategis yang berkaitan dengan gizi nasional dan sumber daya manusia.
- Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya pemerintah mempercepat program prioritas di bidang ketahanan pangan dan pengembangan talenta.

Presiden Prabowo Subianto melantik tiga pejabat baru di Istana Negara pada Rabu (22/7/2026), menempatkan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), serta Donny Ermawan Taufanto dan Yos Sunitiyoso sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI). Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di tengah sorotan publik terhadap arah kebijakan sumber daya manusia dan ketahanan pangan nasional.
Sudaryono, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian, kini dipercaya memimpin BGNโlembaga yang dibentuk untuk mengoordinasikan program perbaikan gizi masyarakat, termasuk makan siang gratis dan penanganan stunting. Sementara itu, Donny Ermawan Taufanto dan Yos Sunitiyoso akan mengelola URI, institusi pendidikan tinggi yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia unggul di era transformasi digital.
Pelantikan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah serius memperkuat institusi yang menangani isu-isu fundamental. BGN, misalnya, diharapkan mampu menyelaraskan program gizi lintas kementerian dan daerah, mengingat angka stunting Indonesia masih di atas 20 persen. Di sisi lain, URI dituntut mencetak lulusan yang siap bersaing di pasar global, sejalan dengan target Indonesia Emas 2045.
Menurut pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, pelantikan ini menunjukkan konsolidasi birokrasi yang lebih terarah. "Pemilihan figur-figur ini tidak lepas dari kebutuhan percepatan program prioritas presiden. BGN dan URI adalah dua pilar penting dalam membangun manusia Indonesia yang sehat dan cerdas," ujarnya. Ia menambahkan, tantangan ke depan adalah memastikan koordinasi antara lembaga baru dengan kementerian existing tidak tumpang tindih.
Di sisi lain, publik menanti gebrakan nyata dari para pejabat baru. Program makan siang gratis yang digadang-gadang sebagai salah satu andalan Prabowo masih membutuhkan regulasi teknis dan anggaran yang memadai. Sementara URI, yang merupakan penggabungan beberapa institusi pendidikan, harus segera menghasilkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0.
Dengan pelantikan ini, pemerintah berharap tidak ada lagi tumpuan pada pendekatan sektoral yang lamban. Pertanyaan besarnya, apakah BGN dan URI mampu menjawab ekspektasi tinggi publik di tengah keterbatasan fiskal dan birokrasi yang gemuk?



