Setahun Tragedi Jatuhnya Pesawat Latih di Sekolah Dhaka: Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan
Baca dalam 60 detik
- Kecelakaan pesawat tempur Bangladesh Air Force di Milestone School setahun lalu menewaskan 36 orang, sebagian besar anak-anak, dan melukai lebih dari 160 lainnya.
- Laporan investigasi yang bocor mengungkap pelanggaran kode bangunan sekolah, kurangnya pelatihan pilot, dan lebih dari 600 bangunan di sekitar bandara melanggar batas ketinggian.
- Keluarga korban mendesak pemerintah Bangladesh merilis laporan lengkap dan memberikan kompensasi serta dukungan medis bagi penyintas yang masih mengalami trauma.

Setahun setelah pesawat tempur Angkatan Udara Bangladesh jatuh menimpa sebuah sekolah di Dhaka, para keluarga korban masih berjuang mendapatkan jawaban atas tragedi yang merenggut 36 jiwa—sebagian besar anak-anak—dan melukai lebih dari 160 orang lainnya. Nure Jannat Yusha, siswi kelas enam yang selamat, masih dihantui mimpi buruk dan ketakutan setiap kali melihat pesawat melintas.
Peristiwa pada 21 Juli 2025 itu bermula ketika sebuah pesawat latih lepas landas dari pangkalan udara di Dhaka sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Tak lama setelah itu, pesawat jatuh di kawasan Uttara dan menghantam gedung Milestone School and College, mengubah sekolah yang semula ramai menjadi lautan api dan puing-puing. Bencana ini tercatat sebagai kecelakaan penerbangan paling mematikan di Bangladesh dalam beberapa dekade terakhir.
Pekan ini, keluarga dan penyintas berkumpul dalam acara peringatan di sebuah rumah sakit di Dhaka. Banyak dari mereka yang masih bergulat dengan trauma mendalam. "Bahkan sekarang, jika saya pergi ke sekolah dan melihat pesawat, saya merasa takut. Saya tidak bisa tidur di malam hari. Dalam mimpi, seseorang melemparkan saya ke dalam api," ujar Yusha kepada BBC Bengali. Ibunya, Yasin Akter, menambahkan bahwa putrinya yang dulu bercita-cita menjadi penari kini kehilangan minat belajar dan terus-menerus berteriak ketakutan.
Laporan investigasi yang diserahkan kepada pemerintah pada November lalu, namun belum dipublikasikan, justru memicu kemarahan baru. Salinan laporan yang diperoleh BBC Bengali mengungkapkan sejumlah temuan kritis: Milestone School tidak mematuhi kode bangunan, pilot kekurangan pelatihan dan pengawasan darat yang memadai, serta lebih dari 600 bangunan—termasuk sekolah dan rumah sakit—di dekat Bandara Internasional Dhaka melanggar batasan ketinggian. Laporan itu juga menyatakan tidak ada kerusakan teknis pada pesawat, bertolak belakang dengan pernyataan awal militer yang menyebut kegagalan mekanis.
Mansur Helal, suami dari guru Mahreen Chowdhury yang tewas saat menyelamatkan murid-muridnya, mempertanyakan keselamatan bangunan sekolah. "Gedung tempat kecelakaan terjadi hanya memiliki satu pintu. Bagaimana bisa untuk 800-900 siswa hanya ada satu pintu?" katanya dalam acara peringatan. Helal dan keluarga korban lainnya mendesak pemerintah untuk merilis laporan lengkap dan memberikan kompensasi serta perawatan medis bagi para penyintas—rekomendasi yang sudah ada dalam laporan namun belum dijalankan.
Menteri Kesehatan Sardar Sakhawat Hossain yang hadir dalam acara tersebut berjanji pemerintah akan mendukung perawatan lanjutan bagi korban. Sementara Zubaida Rahman, istri Perdana Menteri Tarique Rahman, memuji keberanian para penyintas sebagai "sumber inspirasi bagi bangsa". Namun, janji itu belum mampu meredakan kekhawatiran. Mehreen, siswi kelas lima yang mengalami luka bakar parah, mengaku tidak bisa lagi bersekolah karena kulitnya sensitif terhadap sinar matahari. "Sebelumnya, jika saya membaca sesuatu, saya bisa menghafalnya dalam dua menit. Sekarang saya tidak bisa menghafal satu baris dalam dua jam," keluhnya.
Tragedi ini membuka mata akan lemahnya pengawasan penerbangan dan keselamatan bangunan di Bangladesh. Dengan ribuan siswa masih beraktivitas di sekolah yang berada di bawah jalur penerbangan, pertanyaan mendasar pun mengemuka: akankah laporan investigasi segera dipublikasikan dan rekomendasinya benar-benar diimplementasikan, atau justru tenggelam dalam birokrasi?



