Trump Ancam Bom Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran: Seberapa Dalam Pertahanan Pickaxe Mountain?
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Pickaxe Mountain yang dibangun sejak 2020.
- Fasilitas itu diperkirakan berada di kedalaman 80-100 meter, melampaui kemampuan bom penghancur bunker AS saat ini.
- Iran membantah adanya aktivitas nuklir di lokasi tersebut, namun pengamat menilai ancaman ini memperumit situasi geopolitik global, termasuk dampak bagi Indonesia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman untuk membom fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain, sebuah kompleks yang dibangun di kedalaman gunung dan belum pernah tersentuh serangan sebelumnya. Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran di Selat Hormuz, mengingatkan dunia pada risiko konflik berskala lebih besar.
Pickaxe Mountain, atau dalam bahasa Persia disebut Kuh-e Kolang Gaz La, terletak di sisi selatan fasilitas pengayaan uranium Natanz, sekitar 225 kilometer selatan Teheran. Natanz sendiri telah menjadi sasaran serangan udara AS dalam Operasi Midnight Hammer pada 2025, namun Pickaxe Mountain tetap utuh. Iran justru terus menggali dan memperkuat lokasi tersebut sejak pembangunannya dimulai pada 2020, menyusul aksi sabotase di Natanz yang diduga dilakukan Israel.
Menurut analisis dari Institute for Science and International Security (ISIS), fasilitas ini kemungkinan dibangun pada kedalaman antara 80 hingga 100 meter, bahkan mungkin lebih dalam. Kedalaman ini menjadi tantangan serius bagi kemampuan militer AS, karena bom penghancur bunker tercanggih sekalipun, GBU-57, hanya mampu menembus setidaknya 60 meter beton atau tanah sebelum meledak. Para ahli meragukan apakah serangan bertubi-turut dengan dua bom sekalipun dapat menghancurkan fasilitas sedalam itu.
Trump, dalam pernyataannya di Kantor Oval, mengakui kemungkinan Iran telah memindahkan sentrifugal ke Pickaxe Mountain. โKami akan menghantam area ituโฆ mungkin segera. Dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikannya,โ ujarnya. Namun, pernyataan ini kontras dengan pernyataan sebelumnya yang meremehkan pentingnya lokasi tersebut, dengan mengatakan bahwa โmaterialโ uranium yang diperkaya adalah target utama.
Iran dengan tegas membantah adanya aktivitas nuklir rahasia di Pickaxe Mountain. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut tuduhan Washington sebagai โdalih palsu untuk agresi dan sabotase.โ Ia menegaskan bahwa semua aktivitas nuklir Iran telah dilaporkan ke Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Namun, IAEA sendiri belum pernah mendapatkan akses ke situs tersebut, sehingga ketidakjelasan terus menyelimuti apa yang sebenarnya ada di bawah gunung itu.
Ancaman Trump ini tidak hanya berdampak pada hubungan AS-Iran, tetapi juga memicu kekhawatiran di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Sebagai negara yang mengimpor minyak dari Timur Tengah, eskalasi konflik di Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak. Selain itu, Indonesia yang aktif dalam diplomasi perdamaian dan non-proliferasi nuklir perlu mencermati perkembangan ini, mengingat potensi perlombaan senjata nuklir di kawasan.
Sam Lair, peneliti dari Foreign Policy Research Institute, menilai bahwa aktivitas di Pickaxe Mountain menunjukkan Iran masih khawatir akan serangan, sehingga terus memperkuat pertahanan. Sementara itu, ISIS berpendapat bahwa serangan darat atau sabotase mungkin lebih efektif daripada bom udara. Namun, risiko perang terbuka tetap tinggi, terutama setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas nuklir Uni Emirat Arab dan mengancam akan mengambil โtindakan yang diperlukan.โ
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AS akan benar-benar melaksanakan ancaman tersebut, atau justru memilih jalur diplomasi. Mengingat kedalaman Pickaxe Mountain yang melampaui kemampuan bom konvensional, serangan udara mungkin tidak cukup untuk menghancurkan fasilitas itu, namun bisa memicu perang besar yang merugikan semua pihak. Bagi Indonesia, stabilitas kawasan dan keamanan energi menjadi taruhan utama.



