Gugatan Cedera Otak Rugbi Terancam Ditolak: Ribuan Mantan Pemain di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 500 gugatan cedera otak terhadap otoritas rugbi terancam gugur karena penggugat dianggap gagal mematuhi perintah pengadilan terkait dokumen medis.
- Kuasa hukum pemain membantah pelanggaran tersebut signifikan dan menyebut penolakan gugatan sebagai langkah ekstrem yang merugikan kepentingan publik.
- Kasus ini melibatkan nama-nama besar rugbi Inggris dan Wales, termasuk juara Piala Dunia, dan berpotensi memengaruhi masa depan olahraga kontak di Inggris.

Pengadilan Tinggi Inggris pada Rabu (12/2) mendengar argumen bahwa ratusan gugatan dalam perkara cedera otak senilai jutaan poundsterling yang diajukan mantan pemain rugbi harus ditolak. Langkah ini diajukan oleh otoritas rugbi yang menjadi tergugat, dengan alasan penggugat tidak mematuhi perintah pengadilan terkait pengungkapan dokumen pengujian neurologis.
Perkara yang bergulir sejak 2020 ini melibatkan lebih dari 500 mantan pemain dari dua kode rugbi—union dan league. Mereka menuntut World Rugby, Welsh Rugby Union (WRU), Rugby Football Union (RFU), dan Rugby Football League (RFL) karena dianggap gagal melindungi pemain dari dampak benturan kepala berulang. Otoritas rugbi membantah melanggar kewajiban perawatan terhadap pemain.
Dalam sidang, pengacara tergugat menyebut kegagalan penggugat menyerahkan dokumen medis merupakan pelanggaran perintah pengadilan tahun 2024. Michael Kent KC, mewakili World Rugby, WRU, dan RFU, menyatakan bahwa meskipun penolakan gugatan adalah "langkah terakhir", kepatuhan tetap belum tercapai. Sementara itu, William Audland KC, untuk otoritas rugbi league, menyebut ketidakpatuhan bersifat "sistemik dan tanpa alasan yang sah".
Di sisi lain, Susan Rodway KC, pengacara para pemain, membantah tuduhan tersebut. Dalam argumen tertulisnya, ia menyebut pelanggaran itu "tidak serius maupun signifikan" mengingat kompleksitas perkara yang melibatkan dokumen sangat banyak. Menurutnya, penolakan gugatan adalah "respons ekstrem" yang akan merugikan kepentingan publik, terutama bagi kelangsungan olahraga kontak di Inggris. "Akan sangat tidak diinginkan jika sejumlah besar mantan pemain kehilangan tuntutan mereka karena alasan prosedural," tegas Rodway.
Perkara ini juga diwarnai perkembangan baru: Richard Boardman dari firma Rylands Garth, yang selama ini mewakili penggugat, menyatakan niatnya untuk berhenti bertindak. Hakim Senior Master Jeremy David Cook mengaku frustrasi dengan lambatnya proses dan menyebut para penggugat sebagai "penumpang" dalam litigasi yang berlarut-larut. Ia berharap pergantian pengacara justru mempercepat jalannya perkara.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan atlet dari cedera otak, terutama di olahraga kontak. Meski rugbi belum sepopuler sepak bola atau bulu tangkis di Tanah Air, meningkatnya minat terhadap olahraga ini—terlihat dari partisipasi di ajang SEA Games—menuntut perhatian serius terhadap keselamatan pemain. Federasi rugbi Indonesia (Persatuan Rugby Union Indonesia) dapat menjadikan kasus ini sebagai referensi untuk memperketat protokol cedera kepala.
Sidang akan dilanjutkan Kamis (13/2). Pertanyaan besarnya: apakah keadilan prosedural akan mengalahkan kepentingan substansial para mantan pemain yang mengorbankan kesehatan mereka demi olahraga?



