Warga Perbukitan Menoreh Bersatu Pulihkan Habitat Burung yang Terancam
Baca dalam 60 detik
- Mantan pemburu burung di Purworejo beralih menjadi pelestari setelah populasi sikatan cacing menurun drastis dalam lima tahun terakhir.
- Kelompok warga di tiga desa memetakan koridor burung dan memulihkan mata air sebagai langkah konkret menyelamatkan ekosistem.
- Praktik agroforestri dan kearifan lokal menjadi kunci keberhasilan pelestarian, namun fragmentasi lahan masih menjadi tantangan utama.

Kepunahan lokal burung sikatan cacing (Cyornis banyumas) di Perbukitan Menoreh mendorong warga yang dulu menjadi pemburu untuk berbalik arah menjadi garda terdepan konservasi. Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, mengaku kesulitan menemukan burung incarannya sejak lima tahun lalu, sehingga ia memutuskan berhenti berburu dan beralih ternak kambing. Namun, berhenti berburu saja tidak cukup—pemburu dari luar desa justru semakin banyak, memaksa pemerintah desa memberlakukan larangan penangkapan burung dua tahun terakhir.
Larangan itu mulai membuahkan hasil: populasi sikatan cacing perlahan muncul kembali, meski masih sedikit. Untuk mengoptimalkan pemulihan, Parman bersama belasan warga membentuk Kelompok Girimukti yang bertugas memetakan habitat burung di Perbukitan Menoreh. Hasil pemetaan sementara menunjukkan bahwa habitat kritis terkonsentrasi di sekitar lima mata air (sendang) yang debitnya terus menurun, bahkan ada yang kering saat kemarau. “Mata air yang kritis tidak hanya mengancam burung, tapi juga kebutuhan air warga,” ujar Parman.
Upaya serupa dilakukan di Desa Pandanrejo, tetangga Donorejo. Adhita Virya Akmilius Lala, pemuda yang aktif dalam penyelamatan ekosistem burung, mengungkapkan bahwa perbaikan koridor burung juga mencakup pemetaan kawasan hutan Perhutani yang menjadi habitat elang ular bido, alap-alap, jalak suren, dan trucuk. Warga berkoordinasi dengan Perhutani untuk menjaga tegakan pohon yang memiliki sarang dan menanam pohon pakan seperti pepaya, kersen, dan mangga untuk burung pemakan buah, serta tanaman berbunga untuk pemakan nektar.
Di Desa Purwosari, Kulonprogo, inisiatif serupa telah berjalan sejak 2020. Tegar Cahaya Putra, inisiator Kelompok Lestari Purwosari, menjelaskan bahwa budaya masyarakat setempat yang menekankan keharmonisan dengan alam menjadi modal penting. Dalam sistem tumpangsari kopi, misalnya, petani tetap menyediakan ruang bagi burung. “Berkat pelestarian burung, kopi yang dulu terbengkalai kini kembali produktif dan menguntungkan,” katanya. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengonfirmasi bahwa pola tanam dengan vegetasi sub kanopi setinggi 4,1–8 meter menyediakan substrat bagi burung untuk bergerak, mencari makan, dan berlindung.
Tantangan terbesar dalam merawat koridor burung adalah kepemilikan lahan yang sebagian besar pribadi. Arif Rudiyanto dari Yayasan Kanopi Indonesia, yang telah mendampingi warga selama belasan tahun, menilai bahwa edukasi dan kearifan lokal menjadi solusi. “Pemilik lahan bertebing sudah tahu bahwa area itu tempat bersarang sikatan cacing, sehingga mereka tidak akan memapas bukit,” ujarnya. Pengetahuan lokal tentang fungsi ruang dan pemilihan vegetasi—misalnya semak bambu untuk cikrak dan bondol jawa—terus diwariskan ke generasi muda.
Fragmentasi hutan di Perbukitan Menoreh memang tak terhindarkan, namun warga optimis dengan membangun koridor yang menghubungkan kantong-kantong habitat. Koordinasi dengan pemerintah desa sudah berjalan melalui Musrenbang dan peraturan desa. Arif mengingatkan agar kebijakan di tingkat kabupaten dan provinsi berangkat dari kondisi lokal. “Jangan sampai ada proyek pembangunan yang merusak habitat burung dan kearifan warga, terutama karena kawasan ini rawan longsor. Upaya pelestarian juga bagian dari mitigasi bencana,” tegasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model konservasi berbasis komunitas ini dapat direplikasi di daerah lain yang menghadapi tekanan serupa. Dengan dukungan pemerintah dan kesadaran warga yang terus tumbuh, Perbukitan Menoreh bisa menjadi contoh bagaimana manusia dan alam dapat hidup berdampingan secara berkelanjutan.



