FIGC Siapkan Pengecualian Gaji demi Gaet Pep Guardiola
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIGC Giovanni Malago mengonfirmasi telah melakukan pembicaraan dengan Pep Guardiola untuk menjadi pelatih timnas Italia.
- FIGC disebut siap memberikan pengecualian finansial, termasuk kemungkinan gaji di atas batas normal, demi mendatangkan pelatih asal Spanyol tersebut.
- Guardiola, yang fasih berbahasa Italia dan pernah bermain di Serie A, menjadi kandidat utama bersama Roberto Mancini dan Andrea Pirlo.

Pep Guardiola dikabarkan telah melakukan negosiasi serius dengan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk mengisi kursi pelatih tim nasional yang kosong sejak Gennaro Gattuso mundur pada April lalu. Presiden FIGC Giovanni Malago secara terbuka mengonfirmasi kontak dengan pelatih asal Spanyol tersebut dan mengisyaratkan adanya kelonggaran finansial untuk mengakomodasi gajinya yang tinggi.
Dalam wawancara dengan media olahraga digital Italia, Cronache di spogliatoio, Malago menyatakan bahwa FIGC telah membuat "pengecualian" terkait anggaran pelatih. "Pengecualian finansial telah dibuat, misalnya yang menyangkut nama yang begitu mendominasi dalam beberapa jam ini: Pep Guardiola," ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa kesepakatan belum pasti tercapai. "Pengecualian karena alasan yang jelas, tetapi belum tentu hal ini akan terwujud."
Guardiola meninggalkan Manchester City pada musim panas ini setelah sepuluh tahun penuh trofi, termasuk enam gelar Premier League, tiga Piala FA, lima Piala Liga, dan satu Liga Champions. Ia mengaku kelelahan setelah masa baktinya di Inggris. "Saya sangat lelah. Serius, saya sangat lelah," katanya saat perpisahan. Meski demikian, tawaran menukangi Italia—negara yang ia kenal baik—bisa menjadi tantangan baru yang menggoda.
FIGC tidak hanya membidik Guardiola. Mantan pelatih Manchester City lainnya, Roberto Mancini—yang membawa Italia juara Euro 2020—serta legenda sepak bola Andrea Pirlo juga masuk dalam daftar kandidat. Namun, Malago menegaskan bahwa daftar itu tidak terbatas pada tiga nama tersebut. "Kami memikirkan profil tertentu dan nama-nama ini pasti masuk dalam kategori itu," katanya.
Jika Guardiola akhirnya menerima tawaran, ia akan menjadi pelatih non-Italia keempat dalam sejarah timnas pria Italia, setelah Lajos Czeizler (1950-an) dan Helenio Herrera (1960-an) yang pernah menjadi bagian dari komite teknis. Guardiola sendiri belum pernah melatih di Italia, tetapi ia fasih berbahasa Italia dan menghabiskan dua musim bermain di Serie A bersama Brescia dan Roma. Pengalaman itu memberinya pemahaman mendalam tentang sepak bola Italia.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik karena Guardiola adalah salah satu pelatih paling berpengaruh di dunia. Gaya sepak bolanya yang khas—tiki-taka dan pressing tinggi—telah menginspirasi banyak pelatih di Asia, termasuk di Indonesia. Jika ia menangani Italia, publik sepak bola Indonesia bisa menyaksikan bagaimana filosofi Guardiola beradaptasi dengan kultur sepak bola Italia yang lebih defensif dan taktis. Ini bisa menjadi studi kasus menarik bagi perkembangan sepak bola nasional.
Keputusan akhir Guardiola akan sangat dinantikan. Apakah ia akan mengambil tantangan membangun kembali kejayaan Italia yang sedang terpuruk, atau memilih istirahat lebih panjang? Satu hal yang pasti: FIGC bersedia mengeluarkan dana besar demi mendapatkan pelatih sekelas Guardiola.



