Bos Venezia Caplok Saham Bolton Wanderers, Perkuat Tren Multi-Klub Global
Baca dalam 60 detik
- Tim Leiweke dan putrinya Francesca Bodie resmi membeli saham minoritas Bolton Wanderers, setelah gagal mengakuisisi 16 persen saham Benfica.
- Langkah ini menegaskan strategi multi-club ownership yang diterapkan Leiweke, yang sebelumnya juga menguasai Venezia dengan investasi โฌ100 juta.
- Model kepemilikan ganda seperti ini mulai dilirik investor Asia, termasuk Indonesia, sebagai cara memperkuat merek dan pengembangan pemain lintas liga.

Tim Leiweke, pengusaha Amerika yang juga pemilik klub Serie A Venezia, bersama putrinya Francesca Bodie, resmi mengakuisisi saham minoritas Bolton Wanderers. Transaksi ini terjadi setelah upaya mereka membeli 16 persen saham Benfica kandas karena pihak klub Lisbon menolak bergabung dalam jaringan multi-klub.
Leiweke bukan nama asing di dunia bisnis olahraga. Ia pernah menghadapi dakwaan manipulasi tender pembangunan arena olahraga di University of Texas, namun kemudian mendapat pengampunan dari Presiden Donald Trump. Pada Mei 2026, ia mengucurkan โฌ100 juta ke Venezia yang saat itu promosi ke Serie A, sekaligus menunjuk Bodie sebagai presiden klub. Rapper Drake juga tercatat sebagai salah satu pemilik minoritas sejak 2024.
Kegagalan di Benfica tidak menghentikan ambisi Leiweke. Bersama mantan eksekutif OVG Keegan McDonald, mereka mendirikan Entrepreneur Equity Partners untuk mengakuisisi bagian dari Bolton. Klub yang nyaris bangkrut pada 2019 ini baru saja promosi ke Championship lewat play-off, menandai kebangkitan setelah masa sulit.
โKami akan membawa yang terbaik dari apa yang telah kami pelajari sebagai mitra tim-tim global terkemuka untuk membuat Bolton Wanderers lebih kuat dari sebelumnya. Kami bangga bergabung di tahap perjalanan luar biasa klub ini,โ ujar Leiweke dalam pernyataan resmi.
Fenomena multi-club ownership (MCO) semakin marak di sepak bola Eropa. Grup seperti City Football Group atau Red Bull telah membuktikan bahwa model ini bisa menguntungkan secara komersial dan pengembangan bakat. Bagi Indonesia, tren ini relevan karena beberapa klub lokal mulai menjajaki kerja sama dengan investor asing. Regulasi PSSI yang belum secara tegas mengatur kepemilikan silang masih menjadi tantangan, namun potensi transfer pemain dan peningkatan kualitas kompetisi bisa menjadi imbas positif.
Langkah Leiweke di Bolton menegaskan bahwa investor Amerika melihat sepak bola Inggris sebagai lahan basah, terutama setelah Brexit. Namun, pertanyaan yang muncul: akankah model ini mendorong homogenitas atau justru memperkaya ekosistem? Dengan jejak Leiweke yang kontroversial di balik layar, publik sepak bola akan terus mengawasi dampak nyata kepemilikannya.



