Zelenskyy Ganti Panglima di Tengah Tekanan Jalanan: Pertarungan Generasi Muda vs Soviet Lama
Baca dalam 60 detik
- Presiden Zelenskyy memberhentikan Panglima Angkatan Bersenjata Oleksandr Syrskyi dan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov setelah gelombang protes publik menuntut reformasi militer.
- Panglima baru, Mayjen Mykhailo Drapatyi (43), mewakili generasi perwira yang lahir dari medan perang melawan Rusia sejak 2014, sementara Syrskyi dianggap bagian dari era Soviet.
- Pergantian ini memicu euforia di Rusia dan meninggalkan tanda tanya besar: apakah langkah ini cukup meredam amarah rakyat dan mempercepat kemenangan Ukraina?

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy akhirnya menyerah pada tekanan publik dengan merombak pucuk pimpinan militernya, sebuah keputusan yang mengakhiri pekan penuh gejolak politik dan disambut sorak gembira di Moskow. Pergantian panglima dan menteri pertahanan sekaligus dalam satu pekan adalah langkah berani yang bisa memperkuat—atau justru mengguncang—poros perlawanan Ukraina terhadap invasi Rusia.
Jenderal Oleksandr Syrskyi, panglima yang telah memimpin sejak awal invasi besar-besaran 2022, resmi diberhentikan. Ia digantikan oleh Mayjen Mykhailo Drapatyi, seorang perwira berusia 43 tahun yang namanya melambung sejak pertempuran Krimea 2014. Drapatyi dianggap mewakili generasi baru jenderal Ukraina yang tumbuh dari medan perang, bukan dari doktrin Soviet. Sementara itu, Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, arsitek di balik keunggulan drone Ukraina, juga harus angkat kaki dari jabatannya setelah hanya enam bulan menjabat.
Keputusan ini lahir dari krisis politik yang dipicu reshuffle kabinet pekan lalu. Ribuan warga turun ke jalan di Kyiv dan kota-kota lain, menuntut Fedorov dipertahankan dan Syrskyi dipecat. Bagi publik, Fedorov adalah simbol modernisasi militer yang gesit, sementara Syrskyi dianggap bagian dari "gerombolan lama" yang menghambat perubahan. Zelenskyy, yang semula disebut berpihak pada kelompok lama, akhirnya mengambil langkah drastis ini untuk meredakan kemarahan jalanan.
Fedorov, yang dikenal sebagai pengusaha teknologi berusia 35 tahun, secara terbuka mengkritik Syrskyi sebelum pemecatan. Ia menilai sang jenderal menghalangi reformasi dan harus diganti agar Ukraina tidak kalah dalam perang. Dalam pernyataan setelah dipecat, Fedorov menyebut Drapatyi sebagai "harapan baru dalam perjuangan orang merdeka demi kebebasan dan keadilan." Namun, ia juga mengingatkan bahwa Ukraina harus "bergerak lebih cepat dan menulis bab baru, mengoreksi semua kesalahan masa lalu."
Syrskyi, di sisi lain, membela catatan perangnya. Ia mengklaim pasukannya berhasil merebut kembali 743 kilometer persegi wilayah yang diduduki Rusia tahun ini dan menyerahkan pasukan yang tidak hanya bertahan tetapi juga melakukan operasi ofensif. Klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen. Ia juga mendapat ucapan terima kasih dari Fedorov atas keberhasilannya mempertahankan Kyiv saat invasi 2022 dan serangan balik Kharkiv.
Di tengah hiruk-pikuk politik, Ukraina terus melancarkan serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia. Dua gudang raksasa milik Wildberries, retailer online terbesar Rusia, di Krasnodar dan Stavropol menjadi sasaran pada Rabu dini hari. Ini adalah serangan kedua dalam sepekan setelah sebelumnya gudang Wildberries di Moskow dan Tambov dihantam, menewaskan delapan orang. Zelenskyy sebelumnya menyatakan fasilitas itu digunakan Rusia untuk memasok komponen sanksi bagi produksi drone dan peralatan navigasi.
Bagi Indonesia, dinamika perang Ukraina-Rusia menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana tekanan publik bisa memaksa perubahan di pucuk pimpinan negara yang sedang berperang. Di tengah ancaman keamanan regional, stabilitas politik dan militer Ukraina menjadi perhatian global, termasuk bagi negara-negara yang bergantung pada rantai pasok pangan dan energi dari kawasan Laut Hitam. Pertanyaan yang menggantung: apakah langkah Zelenskyy ini akan memperkuat barisan atau justru membuka celah baru bagi Rusia?



