Gunung Tokachi Meletus untuk Pertama Kali dalam 22 Tahun, Skala Sangat Kecil
Baca dalam 60 detik
- Gunung Tokachi di Hokkaido, Jepang, mengalami erupsi pada 22 Juli 2025, pertama kalinya sejak 2004.
- Erupsi terjadi di kawah '62-2' dengan asap setinggi 200 meter dan dikategorikan berskala sangat kecil oleh Badan Meteorologi Jepang.
- Status siaga Level 2 (jangan mendekati kawah) sudah diberlakukan sejak 18 Juni 2025 dan belum berubah pasca-erupsi.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, Gunung Tokachi—salah satu gunung berapi aktif di Pulau Hokkaido, Jepang utara—meletus pada Selasa (22/7) pagi. Badan Meteorologi Jepang (JMA) melalui kantor regional Sapporo mengonfirmasi erupsi terjadi sekitar pukul 11.10 waktu setempat, memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 200 meter dari kawah yang dikenal dengan nama '62-2'. Meski menjadi erupsi pertama sejak 2004, JMA menekankan bahwa skala letusan ini tergolong sangat kecil.
Keputusan untuk menaikkan status siaga dari Level 1 (potensi peningkatan aktivitas) menjadi Level 2 (jangan mendekati kawah) sebenarnya sudah diambil pada 18 Juni lalu, setelah terdeteksi peningkatan aktivitas vulkanik. Hingga saat ini, level tersebut belum berubah. Artinya, masyarakat dan pendaki tetap diminta untuk tidak mendekati area kawah dalam radius tertentu.
Letusan Gunung Tokachi kali ini menjadi pengingat bahwa gunung berapi yang tenang sekalipun bisa tiba-tiba 'bangun'. Meski skalanya kecil, peristiwa ini menarik perhatian para ahli vulkanologi karena menunjukkan bahwa sistem magma di bawah gunung tersebut masih aktif. Sejarah mencatat, Tokachi pernah mengalami erupsi lebih besar pada 1962 dan 1988–1989 yang menyebabkan kerusakan terbatas.
Bagi Indonesia, berita ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia, aktivitas vulkanik di Jepang kerap dijadikan referensi dalam pengembangan sistem mitigasi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara berkala memantau pola erupsi gunung-gunung di Jepang untuk menyempurnakan prosedur evakuasi dan peringatan dini di Tanah Air.
Menurut analis vulkanologi dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Agus Haryanto (bukan nama sebenarnya), erupsi kecil seperti ini justru penting dipelajari karena sering kali menjadi prekursor aktivitas yang lebih besar. "Jepang memiliki sistem monitoring yang sangat ketat. Kenaikan level siaga sebulan sebelum erupsi menunjukkan bahwa deteksi dini mereka bekerja dengan baik. Ini pelajaran bagi kita untuk tidak mengabaikan tanda-tanda awal," ujarnya.
Ke depan, JMA akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Tokachi. Meski erupsi kali ini tidak menimbulkan korban atau kerusakan signifikan, para ahli mengingatkan bahwa gunung berapi bisa berubah perilaku sewaktu-waktu. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah erupsi kecil ini akan diikuti oleh aktivitas yang lebih besar, atau justru mereda seperti biasa? Hanya pemantauan berkelanjutan yang bisa menjawabnya.



