Jepang Catat Hari 'Panas Kejam' Pertama: Suhu Tembus 40 Derajat, 287 Orang Dirawat
Baca dalam 60 detik
- Jepang mencatat hari 'kokushobi' pertama dengan suhu di tiga kota mencapai 40ยฐC, memicu peringatan heatstroke di 40 prefektur.
- Istilah baru ini diperkenalkan Badan Meteorologi Jepang pada April untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gelombang panas ekstrem yang kian sering terjadi.
- Rekor 287 pasien heatstroke di Tokyo dalam sehari menjadi alarm bagi negara tropis seperti Indonesia yang juga rentan terhadap cuaca ekstrem.

Jepang untuk pertama kalinya mencatat fenomena yang disebut kokushobi, atau "hari yang sangat panas", setelah suhu di tiga kota pusat negara itu menembus 40 derajat Celsius pada Selasa (8/8). Peristiwa ini memicu gelombang peringatan kesehatan dan membuka diskusi tentang bagaimana negara-negara Asia, termasuk Indonesia, perlu beradaptasi dengan perubahan iklim yang kian ekstrem.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkenalkan istilah kokushobi pada April lalu untuk menggambarkan hari dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius atau lebih. Sebelumnya, Jepang sudah memiliki istilah untuk suhu di atas 25 derajat (natsubi), 30 derajat (manatsubi), dan 35 derajat (moshobi). Penambahan kategori tertinggi ini menunjukkan bahwa gelombang panas ekstrem bukan lagi anomali, melainkan tren yang harus diantisipasi secara serius.
Tiga kota yang mencatat suhu 40 derajat pada hari Selasa adalah Tajimi, Gujo, dan Toyoda di wilayah tengah Jepang. Hampir 300 dari 914 titik observasi nasional melaporkan suhu di atas 35 derajat pada hari yang sama. JMA memperkirakan panas ekstrem ini akan berlanjut hingga pekan depan.
Dampak langsung dari suhu ekstrem ini terlihat dari lonjakan pasien heatstroke. Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo melaporkan 287 orang berusia 3 hingga 103 tahun dilarikan ke rumah sakit pada Selasa โ angka tertinggi sepanjang tahun ini. Otoritas bahkan mengeluarkan peringatan kelebihan beban ambulans pada Rabu dan mendesak warga untuk melindungi diri dari panas.
Pemerintah Jepang merespons dengan langkah-langkah adaptasi, termasuk mendorong pekerja kantoran untuk mengenakan pakaian kasual seperti T-shirt dan celana pendek sebagai pengganti jas dan dasi. Imbauan ini mengingatkan pada kampanye Cool Biz yang pernah populer di Jepang untuk mengurangi penggunaan AC dan menurunkan emisi karbon.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa gelombang panas ekstrem bukan hanya masalah negara subtropis. Data BMKG menunjukkan suhu di beberapa wilayah Indonesia, seperti di Ciputat dan Surabaya, pernah menyentuh 37-38 derajat Celsius pada Oktober 2023. Meski belum setinggi Jepang, tren peningkatan suhu rata-rata global membuat risiko heatstroke dan gangguan kesehatan terkait panas semakin nyata. Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini seperti kokushobi atau moshobi, padahal angka kematian akibat cuaca panas di negara tropis bisa lebih tinggi karena minimnya adaptasi.
Pakar iklim dari Universitas Indonesia, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, menilai bahwa Jepang memberikan contoh penting dalam mengomunikasikan risiko cuaca ekstrem. "Penggunaan istilah yang mudah diingat seperti 'hari yang sangat panas' atau 'hari yang kejam' bisa meningkatkan kesadaran publik. Indonesia perlu mempertimbangkan sistem serupa, terutama untuk kelompok rentan seperti pekerja luar ruangan dan lansia," ujarnya.
Ke depan, Jepang diperkirakan akan terus mencatat rekor suhu baru seiring dengan pemanasan global. Pertanyaan yang muncul: apakah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, siap menghadapi musim panas yang semakin 'kejam'? Tanpa sistem peringatan dini yang memadai dan kebijakan adaptasi yang konkret, gelombang panas bukan hanya akan menjadi berita, tetapi juga krisis kesehatan masyarakat.



