IHSG Mendekati 6.400, Reli 10 Hari Beruntun Diuji Keputusan Suku Bunga BI
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada Rabu (22/7) pagi, naik 0,41% ke 6.366,01, memperpanjang reli menjadi sepuluh hari berturut-turut.
- Aliran dana asing kembali deras dengan net buy Rp1,99 triliun dalam sepekan terakhir, sementara nilai transaksi harian konsisten di atas Rp15 triliun.
- Keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diumumkan siang ini menjadi katalis utama; mayoritas ekonom memproyeksikan kenaikan 25 bps menjadi 6,00%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali membuka perdagangan di zona hijau pada Rabu (22/7/2026), menambah catatan reli menjadi sepuluh hari beruntun dan mendekati level psikologis 6.400. Pada pukul 09.00 WIB, indeks tercatat naik 0,41% atau 26 poin ke posisi 6.366,01, melanjutkan momentum bullish yang telah mengerek indeks sebesar 7,93% sejak terakhir kali melemah pada 8 Juli lalu.
Penguatan ini tidak lepas dari derasnya aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar saham domestik. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing membukukan net buy sebesar Rp1,99 triliun dalam periode 16โ21 Juli. Aksi beli asing terbesar terjadi pada 16 Juli, mencapai Rp1,22 triliun, diikuti oleh transaksi signifikan pada hari-hari berikutnya. Masuknya dana asing ini menjadi angin segar setelah sebelumnya pasar sempat mengalami tekanan outflow.
Selain aliran dana, likuiditas perdagangan juga menunjukkan perbaikan. Dalam tiga hari terakhir, nilai transaksi harian IHSG konsisten berada di atas Rp15 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan titik terendah sepanjang 2026 yang tercatat pada 10 Juli lalu. Analis menilai kombinasi antara kenaikan volume dan partisipasi asing membuat reli saat ini lebih solid dibandingkan periode sebelumnya yang lebih didorong oleh aksi spekulatif lokal.
Namun, euforia pasar masih dibayangi oleh ketidakpastian kebijakan moneter. Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli pada siang hari ini. Berdasarkan polling yang melibatkan 14 institusi dan lembaga, mayoritas (delapan responden) memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 5,75% menjadi 6,00%. Enam responden lainnya memproyeksikan suku bunga tetap. Jika kenaikan terjadi, ini akan menjadi pengetatan keempat sepanjang 2026, setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 bps sejak Mei.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi alasan utama di balik ekspektasi kenaikan suku bunga. Meskipun IHSG tengah perkasa, stabilitas rupiah masih menjadi perhatian serius bagi otoritas moneter. Keputusan BI nantinya akan menjadi penentu apakah reli IHSG dapat berlanjut atau justru mengalami koreksi. Investor pun mencermati data eksternal seperti tingkat pengangguran Inggris dan neraca perdagangan Jepang yang turut mempengaruhi sentimen global.
Secara historis, reli panjang IHSG pernah terjadi pada Juli 2025, saat indeks mampu menguat hingga 11 hari beruntun. Pola serupa kini terulang, dengan IHSG telah menguat dalam 14 dari 15 hari perdagangan terakhir. Pertanyaannya, akankah momentum ini bertahan di tengah potensi pengetatan likuiditas? Atau justru keputusan BI yang hawkish akan menjadi pemicu aksi ambil untung? Pelaku pasar kini menanti sinyal dari pertemuan RDG siang ini.



