Empat Bulan Dilanda Kekeringan, Warga Tangerang Antre Air Bersih dari Mobil Damkar
Baca dalam 60 detik
- Kekeringan yang melanda Desa Karang Tengah, Tangerang, sudah berlangsung empat bulan, memaksa warga mengandalkan distribusi air dari BPBD.
- Setiap hari, puluhan ibu rumah tangga mengantre hingga satu jam untuk mendapatkan air bersih yang digunakan untuk mandi, mencuci, dan memasak.
- Warga mendesak pemerintah meningkatkan frekuensi pengiriman air bersih selama musim kemarau, mengingat sumber air alternatif berjarak tiga kilometer.

Kekeringan yang melanda Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, telah memasuki bulan keempat tanpa tanda-tanda mereda. Pada Selasa (21/7), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kembali mendistribusikan bantuan air bersih, namun jumlahnya tak sebanding dengan kebutuhan warga yang terus membeludak.
Puluhan warga, mayoritas ibu rumah tangga, terlihat mengantre sambil membawa galon, ember, dan jeriken di titik distribusi. Air yang disuplai menggunakan mobil tangki pemadam kebakaran itu langsung disambut antusias, bahkan nyaris terjadi rebutan karena volume air terbatas. Salah seorang warga, Putri, mengaku terpaksa ikut berebut karena air bersih sangat vital untuk kebutuhan sehari-hari. "Airnya dikit jadi berebut, nanti air ini bakal digunain buat mandi, cuci baju dan piring," ujarnya.
Kondisi serupa dikeluhkan Enung, warga lainnya. Ia mengatakan kekeringan di desanya telah berlangsung sekitar empat bulan. Selama itu, warga harus menempuh perjalanan hingga tiga kilometer untuk mencari sumber air bersih. "Antre air disini sudah satu jam, udah empat bulan kekeringan ini, kalau mau ambil air jauh sekitar tiga kilometer," jelasnya. Ia berharap pemerintah dapat meningkatkan frekuensi distribusi air bersih selama musim kemarau masih berlangsung.
Fenomena kekeringan di Tangerang bukanlah hal baru. Setiap musim kemarau, sejumlah desa di Kabupaten Tangerang kerap mengalami krisis air bersih akibat berkurangnya debit sungai dan sumur dangkal yang mengering. Namun, tahun ini dampaknya terasa lebih parah karena kemarau panjang diprediksi berlangsung hingga September mendatang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa sebagian wilayah Banten akan mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, mengatakan pihaknya telah menyiagakan puluhan unit mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih ke desa-desa terdampak. Namun, keterbatasan armada dan akses jalan yang sempit di beberapa lokasi menjadi kendala. "Kami berupaya maksimal, tapi kebutuhan terus bertambah. Kami mengimbau warga untuk menggunakan air secara bijak," ujarnya dalam kesempatan terpisah.
Krisis air bersih ini tidak hanya mengancam kesehatan warga, tetapi juga memicu potensi konflik sosial. Antrean panjang dan rebutan air kerap memicu ketegangan antarwarga. Pemerintah daerah pun didesak untuk segera merealisasikan program jaringan pipa air bersih di wilayah rawan kekeringan sebagai solusi jangka panjang. Pertanyaannya, akankah langkah konkret segera diambil sebelum musim kemarau berikutnya tiba?



