China Kembali Gelar Latihan Tembak di Dekat Pulau Sengketa, Jepang Protes Keras
Baca dalam 60 detik
- Beijing menegaskan latihan militer di Samudra Pasifik pekan lalu sah secara hukum internasional, menolak klaim Jepang bahwa area tersebut masuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) mereka.
- Kapal perang China dan Rusia terpantau bermanuver bersama di sekitar Okinotori, pulau karang yang statusnya diperdebatkan, menandai eskalasi aktivitas militer di kawasan.
- Insiden ini berpotensi memicu ketegangan baru di Asia Timur, mengingat Indonesia juga memiliki kepentingan di Laut China Selatan terkait kebebasan navigasi dan penetapan batas maritim.

China kembali menegaskan bahwa latihan tembak langsung yang dilakukan oleh angkatan lautnya di perairan Pasifik pada akhir pekan lalu sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional. Pernyataan itu sekaligus membantah protes Jepang yang mengklaim bahwa area latihan tersebut berada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negaranya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers Selasa (22/7) menyatakan bahwa Okinotori—yang disebut Jepang sebagai pulau—hanyalah batu karang menurut definisi Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Oleh karena itu, China menilai klaim ZEE oleh Jepang di sekitar Okinotori tidak memiliki dasar hukum. “Aktivitas China di laut lepas sepenuhnya konsisten dengan hukum internasional dan praktik internasional,” ujar Lin Jian.
Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan bahwa sebuah kapal perusak berpeluru kendali milik China melakukan latihan tembak menggunakan senapan mesin pada Minggu (20/7) sekitar 180 kilometer barat daya Okinotori, pulau paling selatan Jepang. Ini merupakan pertama kalinya aktivitas semacam itu dikonfirmasi dan dipublikasikan oleh Jepang di ZEE-nya. Kapal tersebut merupakan bagian dari armada gabungan yang terdiri dari tiga kapal perang China dan satu fregat Rusia yang terlihat berlayar bersama pada pukul 02.00 dini hari di lokasi sekitar 330 kilometer barat daya Okinotori.
Setelah latihan, keempat kapal bergerak ke utara dan terpantau pada Selasa (21/7) sekitar 220 kilometer timur Pulau Iwoto. Pemerintah Jepang telah menyampaikan kekhawatiran melalui saluran diplomatik bahwa latihan tembak langsung dapat membahayakan kapal-kapal yang melintas di perairan sekitar.
Ketegangan ini menambah panjang daftar sengketa maritim di Asia Timur. Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya penegakan hukum laut internasional, terutama di kawasan Laut China Selatan yang juga menjadi jalur pelayaran utama. Meskipun Indonesia bukan pihak dalam sengketa Okinotori, prinsip kebebasan navigasi dan penetapan batas maritim berdasarkan UNCLOS menjadi kepentingan nasional yang tidak bisa ditawar.
Para analis menilai bahwa koordinasi militer China-Rusia yang semakin erat, termasuk patroli bersama dan latihan gabungan, merupakan sinyal bagi negara-negara tetangga bahwa kedua negara siap menunjukkan kekuatan di kawasan. Ke depan, apakah Jepang akan meningkatkan pengawasan atau mengambil langkah balasan diplomatik yang lebih keras? Pertanyaan ini masih menggantung di tengah dinamika keamanan Asia Timur yang kian kompleks.



