Truk Sampah ke Bantargebang Berkurang, Pramono Klaim Gerakan Pilah Sampah Mulai Berbuah
Baca dalam 60 detik
- Volume truk sampah harian ke TPST Bantargebang turun dari 1.200 menjadi sekitar 900 unit setelah program pilah sampah digencarkan.
- Pemprov DKI Jakarta akan menghidupkan kembali TPS3R dengan investasi peralatan dan kerja sama swasta untuk mengurangi residu.
- Penghentian open dumping dan penerapan controlled landfill di Bantargebang menjadi langkah paralel menuju pengelolaan sampah berkelanjutan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengumumkan bahwa jumlah truk pengangkut sampah yang menuju Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi mengalami penurunan signifikan, dari rata-rata 1.200 unit per hari menjadi sekitar 900 unit. Penurunan ini disebut sebagai dampak langsung dari gerakan pemilahan sampah yang semakin masif di kalangan warga Jakarta.
Dalam keterangannya di Jakarta Selatan pada Selasa (21/7), Pramono menjelaskan bahwa tren penurunan volume sampah yang dikirim ke Bantargebang merupakan indikasi awal keberhasilan program pilah sampah. "Dulu setiap hari truk yang masuk sekitar 1.200, sekarang sudah turun, bahkan beberapa waktu lalu di angka 900-an," ujarnya, dikutip dari Antara. Meski demikian, ia menegaskan bahwa program ini harus terus dijalankan secara konsisten agar persoalan sampah ibu kota dapat teratasi secara fundamental.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak hanya mengandalkan gerakan pilah sampah di tingkat rumah tangga. Langkah selanjutnya adalah menghidupkan kembali Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang sempat vakum. Pramono menyatakan bahwa pihaknya akan menginvestasikan sejumlah peralatan dan menjalin kerja sama dengan sektor swasta untuk memastikan TPS3R berfungsi optimal. "Kami investasi beberapa peralatan dan kerja sama juga dengan swasta, supaya sebelum ke Bantargebang itu sudah selesai di TPS3R-nya," jelasnya.
Langkah ini dinilai krusial karena TPS3R berperan sebagai pintu gerbang pengolahan sampah sebelum residu dikirim ke Bantargebang. Dengan optimalisasi TPS3R, diharapkan volume residu yang harus ditimbun di TPST dapat ditekan secara drastis. Pramono menargetkan agar pengolahan sampah dapat tuntas di tingkat kelurahan atau kecamatan, sehingga beban Bantargebang berkurang drastis.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga tengah menghentikan praktik open dumping di Bantargebang secara bertahap. Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengonfirmasi bahwa dua zona aktif telah ditutup dan diganti dengan sistem controlled landfill yang mulai diterapkan pada Jumat (17/7). "Pemasangan media penutup merupakan langkah nyata untuk mengurangi bau, membantu mengendalikan emisi gas, serta meminimalkan terbentuknya air lindi akibat masuknya air hujan ke area timbunan sampah," kata Dudi.
Kombinasi antara pengurangan volume sampah dari hulu melalui pilah sampah dan perbaikan sistem pengelolaan di hilir melalui TPS3R serta controlled landfill diharapkan mampu memperpanjang usia pakai TPST Bantargebang. Namun, tantangan terbesar tetap ada pada perubahan perilaku warga dan konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan. Akankah Jakarta mampu mewujudkan visi zero residu ke Bantargebang dalam beberapa tahun ke depan?



