30 Perusahaan China Siap Investasi Rp36 Triliun di Indonesia, Fokus pada Teknologi dan Energi Hijau
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 30 perusahaan asal China menjajaki investasi senilai US$2 miliar di Indonesia, dengan fokus pada teknologi masa depan, energi terbarukan, dan kesehatan.
- Pemerintah Indonesia dan APINDO menyambut baik potensi kerja sama ini, namun menekankan pentingnya kemitraan dengan pelaku usaha lokal dan pengembangan SDM.
- Kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan tenaga kerja, khususnya di sektor semikonduktor, menjadi prioritas untuk mendukung industri masa depan.

Pemerintah Indonesia dan delegasi bisnis China sepakat untuk memperkuat investasi dan perdagangan bilateral, dengan 30 perusahaan asal Negeri Tirai Bambu membawa potensi kerja sama senilai US$2 miliar atau setara Rp36 triliun. Pertemuan yang digelar di Jakarta pada Kamis (23/7/2026) ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi, mengungkapkan bahwa forum tersebut difokuskan untuk mempercepat realisasi investasi dan meningkatkan volume perdagangan antara kedua negara. "Utamanya adalah bagaimana meningkatkan kerja sama yang bertujuan mempercepat investasi dan perdagangan Indonesia-China," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Ali Wardhana.
Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, merinci bahwa perusahaan-perusahaan yang hadir bergerak di tiga sektor strategis: teknologi masa depan, energi terbarukan, dan kesehatan. Sektor-sektor ini dinilai selaras dengan prioritas pembangunan Indonesia, terutama dalam transisi energi dan digitalisasi industri. Nilai kesepakatan yang dihasilkan mencapai sekitar US$2 miliar, mencakup berbagai proyek kerja sama yang telah dan akan segera direalisasikan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Kamdani, menyambut positif langkah ini. Ia menegaskan bahwa pelaku usaha nasional siap bermitra dengan perusahaan China, namun mengingatkan perlunya pengawasan agar investasi memberikan dampak maksimal bagi perekonomian lokal. "Investasi yang masuk perlu dikawal bersama, mengidentifikasi tantangan dan peluang, serta memastikan kemitraan yang saling menguntungkan," kata Shinta. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi di bidang pendidikan dan pelatihan tenaga kerja, terutama untuk sektor teknologi tinggi seperti semikonduktor, yang membutuhkan sumber daya manusia kompeten.
Bagi Indonesia, masuknya investasi China di sektor strategis ini membawa peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, aliran modal dan transfer teknologi dapat mempercepat transformasi industri dalam negeri. Namun, ketergantungan pada mitra asing juga perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas lokal. Pemerintah dan APINDO sepakat bahwa kemitraan harus bersifat inklusif, melibatkan usaha kecil dan menengah serta institusi pendidikan seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) yang turut hadir dalam forum tersebut.
Ke depan, implementasi kesepakatan ini akan menjadi ujian bagi daya saing Indonesia dalam menarik investasi berkualitas. Apakah kerja sama ini mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong hilirisasi industri, atau justru memperlebar kesenjangan teknologi? Semua pihak berharap agar kolaborasi Indonesia-China tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga membangun fondasi industri masa depan yang mandiri dan berkelanjutan.



