Lameck Banda Terancam Sanksi Disiplin Setelah Membangkang Latihan Lecce
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Zambia Lameck Banda absen tanpa izin dari sesi latihan pramusim Lecce, memicu peringatan sanksi dari klub.
- Klub Serie A itu menyelidiki apakah Banda bisa mengatasi kendala birokrasi yang ia jadikan alasan penundaan kepulangan.
- Kasus ini menyoroti risiko hukum dan finansial bagi pemain Afrika di Eropa, relevan dengan pengalaman pemain Indonesia di luar negeri.

Lecce resmi mengancam akan menjatuhkan sanksi disiplin kepada penyerang sayap asal Zambia, Lameck Banda, setelah pemain berusia 23 tahun itu mangkir dari latihan pramusim yang dijadwalkan mulai pekan ini. Klub Serie A itu mengeluarkan pernyataan resmi pada Senin (15/7) yang menyatakan bahwa Banda telah dipanggil untuk bergabung dengan skuad asuhan pelatih Eusebio Di Francesco, namun ia meminta penundaan dengan alasan masalah administrasi.
Menurut pernyataan klub, Banda awalnya meminta izin untuk terlambat tiba di Italia karena kendala birokrasi. Namun, ketika tenggat waktu yang disepakati kembali terlewati, manajemen Lecce kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk mengambil langkah formal. Mereka kini akan menyelidiki secara internal apakah pemain tersebut benar-benar tidak bisa mengatasi hambatan perjalanan, atau justru lalai dalam mengurus dokumen yang diperlukan.
Langkah Lecce ini tidak terlepas dari status kontrak Banda yang masih terikat hingga Juni 2027. Dengan nilai transfer awal โฌ2 juta plus bonus saat direkrut dari Maccabi Petah Tikva pada musim panas 2022, Banda merupakan aset berharga yang telah mencatatkan 104 penampilan di Serie A, dengan sembilan gol dan sepuluh assist. Namun, ketidakhadirannya secara sepihak di pramusim bisa menjadi preseden buruk bagi disiplin tim.
Kasus Banda mengingatkan pada situasi yang kerap dihadapi pemain Afrika di Eropa, di mana masalah visa, izin kerja, atau dokumen perjalanan sering menjadi kendala. Namun, klub Eropa umumnya tegas dalam menegakkan aturan kehadiran, terutama di pramusim yang menjadi fondasi kebugaran dan taktik tim. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, insiden ini relevan mengingat banyak pemain Tanah Air yang merumput di liga asing, seperti Asnawi Mangkualam di Port FC atau Pratama Arhan di Suwon FC. Mereka juga harus menghadapi tekanan birokrasi dan adaptasi budaya, namun ketidakpatuhan terhadap jadwal klub bisa berakibat fatal pada karier.
Menurut analis sepak bola Italia, Matteo Moretto, situasi Banda bisa berujung pada pemotongan gaji, skorsing, atau bahkan pemindahan ke tim cadangan jika klub memutuskan untuk mengambil tindakan keras. โLecce tidak akan mentolerir ketidakhadiran tanpa alasan yang jelas, terutama setelah pemain diberi kelonggaran. Ini soal prinsip dan profesionalisme,โ ujarnya. Lecce sendiri tengah bersiap menghadapi musim 2024/2025 dengan target bertahan di Serie A, sehingga setiap gangguan pada persiapan tim bisa berdampak besar.
Ke depan, Banda harus segera menunjukkan itikad baik untuk kembali berlatih atau memberikan penjelasan yang dapat diterima. Jika tidak, bukan tidak mungkin Lecce akan membuka pintu transfer pada jendela musim panas ini, meski nilai jualnya mungkin turun akibat insiden ini. Pertanyaan besarnya: apakah Banda mampu menyelamatkan kariernya di Italia, atau justru menjadi contoh lain dari pemain Afrika yang gagal memenuhi ekspektasi klub Eropa?



