Pasukan Lebanon Mulai Kuasai Zawtar al-Gharbiyeh: Uji Coba Perdana Kesepakatan Gencatan Senjata
Baca dalam 60 detik
- Tentara Lebanon memasuki Zawtar al-Gharbiyeh setelah penarikan Israel, menandai fase awal implementasi rencana zona percontohan yang ditengahi AS.
- Rencana itu mensyaratkan penyitaan senjata Hizbullah oleh militer Lebanon dan penarikan bertahap pasukan Israel, namun keraguan masih mengemuka.
- Kerusakan parah dan kehadiran Israel di desa tetangga memicu kekhawatiran warga tentang keamanan dan kelayakan pemulangan pengungsi.

Untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat, tentara Lebanon mulai bergerak masuk ke Zawtar al-Gharbiyeh, sebuah kota di Lebanon selatan, setelah pasukan Israel menarik diri dari wilayah tersebut pada Selasa (21/7). Langkah ini menjadi uji coba perdana bagi rencana zona percontohan yang bertujuan memulihkan kedaulatan Lebanon di sepanjang perbatasan.
Rencana yang dijuluki program zona percontohan itu mengatur agar tentara Lebanon menyita senjata kelompok Hizbullah yang beraliansi dengan Iran di sebagian wilayah selatan, sementara Israel menarik pasukannya secara bertahap. Militer Israel pada Senin mengonfirmasi bahwa program tersebut telah dimulai, meskipun hingga Selasa mereka belum memberikan komentar lebih lanjut. Bagi Lebanon, penguasaan kembali Zawtar al-Gharbiyeh adalah langkah awal untuk mengembalikan kendali atas jalur tanah sedalam 10 kilometer yang masih diduduki Israel.
Walau ada optimisme, pelaksanaan di lapangan masih menyisakan banyak persoalan. Wali Kota Zawtar al-Gharbiyeh, Abed Ezzeddin, melaporkan bahwa tim teknik tentara Lebanon telah memasuki kota untuk membersihkan ranjau dan bahan peledak yang belum meledak. Namun, ia mengakui bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum wilayah tersebut dinyatakan aman bagi penduduk. โLebih dari separuh kota hancur, dan rumah-rumah yang tersisa mengalami kerusakan parah, membuat desa ini tidak layak huni,โ ujar Ezzeddin.
Kekhawatiran terbesar warga adalah kehadiran pasukan Israel di Zawtar al-Sharqiyeh, desa yang berjarak hanya lima menit berjalan kaki. โBagaimana saya bisa yakin bahwa saya bisa masuk ke Zawtar al-Gharbiyeh dengan aman? Bagaimana saya bisa berpikir untuk menetap di sana ketika Israel berada tepat di sebelah saya di Zawtar al-Sharqiyeh?โ tanya Ezzeddin, menggambarkan dilema keamanan yang dihadapi para pengungsi.
Militer Israel menegaskan bahwa penarikan mereka adalah bagian dari uji coba kedaulatan Angkatan Bersenjata Lebanon di tiga desa percontohan. โZona percontohan berfungsi sebagai uji coba kedaulatan Angkatan Bersenjata Lebanon di tiga desa percontohan, sebagai satu-satunya otoritas resmi yang berwenang membawa senjata di wilayah tersebut,โ kata seorang pejabat militer Israel. Meskipun demikian, para pejabat Israel masih skeptis terhadap kemampuan Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah. Namun, mereka melihat kesepakatan yang dicapai bulan lalu sebagai langkah penting menuju perdamaian jangka panjang dengan Lebanon.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat posisi Indonesia yang pernah berkontribusi dalam misi perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL). Keberhasilan atau kegagalan rencana ini akan menjadi preseden bagi upaya stabilisasi di kawasan Timur Tengah yang rawan konflik. Selain itu, dinamika antara Hizbullah dan Israel kerap mempengaruhi harga minyak dan stabilitas keamanan regional, yang berdampak pada ekonomi Indonesia.
Presiden Lebanon Joseph Aoun dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump di Washington pada Selasa waktu setempat, menandakan dukungan politik tingkat tinggi terhadap kesepakatan tersebut. Namun, dengan kerusakan yang meluas dan ketidakpastian keamanan, pertanyaan mendasar masih menggantung: akankah warga Zawtar al-Gharbiyeh benar-benar dapat kembali ke rumah mereka, atau justru menjadi pionir dalam proses perdamaian yang rapuh?



