Eksplorasi Migas Menggeliat, Bisnis Kapal Penunjang Diprediksi Ikut Terdongkrak
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menawarkan 13 wilayah kerja migas baru dengan 118 prospek potensial, mendorong optimisme di sektor jasa kelautan.
- Temuan eksplorasi di Blok Kalimantan Timur, Andaman, dan Masela diproyeksikan meningkatkan permintaan kapal pendukung lepas pantai hingga FSO.
- Emiten pelayaran migas seperti Sillo Maritime optimistis terhadap pertumbuhan bisnis seiring komitmen RI meningkatkan produksi minyak dan gas nasional.

Komitmen pemerintah Indonesia untuk menggenjot produksi minyak dan gas bumi mulai membuahkan optimisme di sektor jasa kelautan. Emiten penyedia layanan kapal penunjang lepas pantai, PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP), menilai geliat eksplorasi hulu migas akan mendorong permintaan terhadap armada kapal, mulai dari offshore support vessel hingga kapal tanker pengangkut LNG.
Direktur Operasi SHIP, Sofwan Farisyi, mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini tengah menawarkan 13 wilayah kerja (WK) migas baru yang mencakup 118 prospek potensial. Langkah ini, menurutnya, menjadi sinyal positif bagi industri pelayaran migas yang selama ini bergantung pada aktivitas pengeboran dan produksi. โSetiap penemuan baru pasti membutuhkan dukungan logistik dan transportasi laut,โ ujarnya dalam sebuah diskusi di CNBC Indonesia.
Selain penawaran WK baru, sejumlah temuan eksplorasi signifikan turut menambah optimisme. Beberapa di antaranya adalah penemuan di Blok Kalimantan Timur, kawasan Andaman, hingga Blok Masela. Proyek-proyek ini tidak hanya membutuhkan kapal penunjang lepas pantai, tetapi juga kapal penyimpanan dan pengapungan seperti Floating Storage and Offloading (FSO) serta armada pengangkut gas alam cair (LNG) dan LPG.
Bagi investor dan pelaku industri, perkembangan ini membuka peluang baru di tengah upaya pemerintah mengejar target produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030. Sektor pelayaran migas, yang sempat lesu akibat pandemi dan rendahnya harga minyak, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. SHIP sendiri, sebagai salah satu pemain utama, telah menyiapkan sejumlah kapal untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.
Namun, tantangan tetap ada. Investasi eksplorasi membutuhkan modal besar dan waktu yang panjang, sementara harga minyak global masih fluktuatif. Meski demikian, Sofwan menekankan bahwa komitmen pemerintah yang konsisten menjadi kunci. โKami optimistis, asalkan kebijakan hilir dan hulu berjalan seiring,โ katanya.
Ke depan, jika penawaran WK baru dan temuan eksplorasi berhasil dikomersialkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan kembali menjadi pemain utama di kancah migas regional. Pertanyaannya, mampukah pemerintah menjaga momentum ini di tengah tekanan transisi energi global?



