Megawati di Usia 30 Tahun Kudatuli: Luka Itu Belum Sembuh
Baca dalam 60 detik
- Megawati Soekarnoputri menghadiri pameran peringatan 30 tahun Kudatuli di TIM, mengaku masih tak habis pikir dengan penyerangan terhadap kantor partainya.
- Ia menyoroti ironi bahwa penyerangan dilakukan oleh aparat negara, bukan pihak luar, dan kantor PDI saat itu merupakan fasilitas negara yang sah.
- Peristiwa 27 Juli 1996 menewaskan lima orang dan melukai 149 lainnya, menjadi simbol represi Orde Baru terhadap oposisi politik.

Tiga dekade berlalu, namun ingatan Megawati Soekarnoputri terhadap peristiwa 27 Juli 1996 masih terasa perih. Dalam sebuah pameran foto di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (21/7), Ketua Umum PDIP itu mengaku hingga kini tak bisa menerima logika di balik penyerbuan kantor partainya yang sah di Jalan Diponegoro 58.
"Saya sampai hari ini tidak mengerti. Meskipun dalam batin saya mengerti," ujar Megawati di hadapan para pengunjung pameran. Baginya, kantor PDI (kini PDIP) yang bersebelahan dengan PPP adalah aset negara yang diberikan secara legal. "Tempatnya saja sah. Itu diberikan oleh negara. Jadi saya heran, kenapa kok diserang?"
Yang lebih membuat mantan Presiden kelima itu geram, pelaku penyerangan bukanlah pihak luar, melainkan aparat negara sendiri. "Serangnya itu bukan dari luar, dari aparat kita. Saya suka marah-marah loh," katanya dengan nada getir. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa Kudatuli bukan sekadar kerusuhan politik, melainkan operasi negara terhadap oposisi.
Kudatuli lahir dari dualisme kepemimpinan PDI antara Megawati dan Soerjadi. Soeharto, yang khawatir dengan popularitas Megawati, menggelar kongres tandingan di Medan pada Juni 1996 dan menetapkan Soerjadi sebagai ketua. Megawati menolak hasil kongres itu dan mempertahankan kantor partai. Sebulan kemudian, massa pendukung Soerjadi—dengan bantuan aparat militer—menyerbu markas PDI.
Bagi Megawati, peristiwa itu adalah simbol ketidakadilan. "Lah tempatnya aja sah. Saya didukung juga sah. Tapi kenapa karena saya yang menang lalu kok saya dibeginikan?" ujarnya. Ia menegaskan dirinya bukan provokator, melainkan orang yang memegang harga diri. "Saya sedih loh. Tapi saya enggak menangis. Karena buat saya menangis tuh cengeng. Tapi di dalam hati saya, saya perih sekali," kata Megawati.
Pameran di TIM ini menjadi pengingat bahwa luka Kudatuli belum sepenuhnya mengering. Di tengah hiruk-pikuk politik hari ini, pertanyaan Megawati masih menggantung: akankah kekerasan negara terhadap oposisi benar-benar berakhir?



