Gary Barlow Akui 'Jatuh dari Tebing' Usai Tur The Circus: Beban Emosional yang Semakin Berat
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Take That, Gary Barlow, mengaku mengalami depresi pasca-tur yang parah setelah menyelesaikan rangkaian konser The Circus Live di Dublin.
- Dalam video Instagram, Barlow menyebut perasaan jatuh bebas secara emosional, lebih berat dari biasanya, dan mendorongnya untuk berbagi dengan penggemar yang mungkin merasakan hal serupa.
- Tur spektakuler dengan panggung megah itu dipastikan tidak akan diulang lagi karena tuntutan fisik yang semakin berat di usianya yang ke-55.

Gary Barlow, pentolan grup legendaris Take That, secara terbuka mengaku mengalami tekanan psikologis berat usai menuntaskan rangkaian tur The Circus Live. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, pria berusia 55 tahun itu menggambarkan perasaannya seperti 'jatuh dari tebing'—sebuah metafora yang jarang diungkapkan publik figur sekelasnya.
Tur yang digelar sejak beberapa bulan lalu itu resmi berakhir di Aviva Stadium, Dublin, pada 4 Juli lalu. Namun, alih-alih merayakan keberhasilan, Barlow justru bergulat dengan apa yang disebutnya sebagai 'post-tour blues' yang lebih akut dari pengalaman sebelumnya. Ia mengaku butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa membuat video pengakuan tersebut karena beban emosional yang menghimpit.
“Setiap kali tur selesai, selalu ada rasa antiklimaks. Tapi kali ini, entah kenapa, rasanya saya benar-benar jatuh bebas,” ujar Barlow dalam video yang dikutip dari unggahannya. Ia sengaja memaksa diri untuk berbicara karena ingin menjangkau para penggemar yang mungkin juga mengalami perasaan serupa—sebuah bentuk solidaritas yang jarang dilakukan oleh musisi sekelasnya.
Barlow mengakui bahwa beban emosional dari setiap tur terasa semakin berat seiring bertambahnya usia. Apalagi, The Circus Live bukanlah sekadar konser biasa. Pertunjukan ini menghadirkan atraksi spektakuler seperti pemadam api, pejalan kaki panggung, dan gajah mekanik raksasa setinggi 30 kaki yang membutuhkan energi fisik luar biasa. “Saya sangat sadar betapa banyak orang yang menikmati pertunjukan ini. Itu membuat saya semakin terikat secara emosional,” tambahnya.
Keputusan untuk tidak mengulang The Circus untuk ketiga kalinya sudah diumumkan Barlow sebelumnya. Ia menegaskan bahwa produksi yang menuntut stamina prima itu sudah tidak cocok lagi dengan kondisi fisiknya saat ini. “Saya sudah dua kali lari bersama sirkus. Sekarang saatnya berlari menuju pertunjukan baru yang lebih segar,” ujarnya, memberi isyarat bahwa Take That tengah menyiapkan proyek musikal berikutnya.
Fenomena post-tour blues yang dialami Barlow sebenarnya lazim terjadi di kalangan musisi, terutama setelah tur besar yang melibatkan ribuan penonton dan persiapan berbulan-bulan. Namun, pengakuan jujur dari seorang ikon pop seperti Barlow membuka diskusi lebih luas tentang kesehatan mental di industri hiburan. Di Indonesia, fenomena serupa kerap dialami oleh para musisi tanah air yang menjalani tur panjang, meski jarang diungkapkan secara terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis pasca-pertunjukan tidak mengenal batas geografis atau popularitas.
Dengan berakhirnya era The Circus, pertanyaan besar kini mengarah pada masa depan Take That. Akankah grup yang telah melewati lebih dari tiga dekade ini mampu menghadirkan konsep baru yang tak kalah spektakuler? Atau justru momentum ini akan menjadi titik balik bagi Barlow untuk mengeksplorasi sisi lain dari karier solonya? Yang jelas, pengakuan jujurnya kali ini telah menambah dimensi baru dalam hubungannya dengan penggemar—sebuah hubungan yang dibangun di atas kejujuran dan kerentanan.



