Barella Siap Ubah Gaya Main Demi Inter: Lebih Cerdas, Lebih Pemimpin
Baca dalam 60 detik
- Nicolò Barella mengaku akan mengadopsi pendekatan bermain yang lebih konservatif dan cerdas pada musim 2026-27 untuk menjaga kebugaran di usia 29 tahun.
- Pelatih Cristian Chivu meminta Barella mengambil peran kapten di lapangan, terutama saat kapten utama Lautaro Martinez absen.
- Gelandang Inter itu menargetkan gelar ganda domestik dan impian lama menjuarai Liga Champions, meski sadar keterbatasan anggaran klub.

Nicolò Barella, gelandang andalan Inter Milan, mengaku siap mengubah gaya bermainnya menjelang musim 2026-27. Di usia yang tak lagi muda, pemain 29 tahun itu akan mengedepankan efisiensi energi dan kecerdasan dalam mengatur tempo pertandingan. Perubahan ini bukan sekadar adaptasi fisik, melainkan juga respons terhadap permintaan pelatih Cristian Chivu yang ingin Barella tampil lebih sebagai pemimpin di ruang ganti.
Dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport, Barella mengungkapkan bahwa Chivu memintanya untuk lebih vokal dan menjadi panutan, terutama saat kapten utama Lautaro Martinez absen. “Dia bilang, bantu tim dengan karakteristikmu. Sekarang Lauti tidak ada, aku harus lebih terasa kehadiranku, bertindak sedikit seperti kapten,” ujar Barella. Kepercayaan yang diberikan Chivu sejak hari pertama menjadi motivasi tersendiri bagi pemain yang telah membela Inter sejak 2019 itu.
Barella menyadari bahwa tubuhnya tidak lagi segesit saat pertama kali tiba di San Siro. “Saya mencoba bermain lebih pintar dalam hal manajemen diri, lebih konservatif. Saya 29, bukan 23 lagi,” katanya. Gaya bermain Inter yang mengandalkan wing-back untuk membantu serangan dianggapnya memudahkan transisi ini. Ia tetap bisa berkontribusi ofensif tanpa harus memforsir tenaga secara berlebihan.
Inter datang ke musim baru dengan status juara bertahan ganda: Scudetto dan Coppa Italia. Namun, target musim ini tidak main-main. Barella menegaskan bahwa tim harus mempertahankan kedua gelar tersebut, ditambah Supercoppa, dan yang terpenting melaju lebih jauh di Liga Champions. “Akan sulit, butuh energi besar, tapi itu tujuan kami,” tegasnya. Kegagalan di babak 32 besar musim lalu masih membekas.
Bicara soal Eropa, Barella tak ragu menyebut kata “mimpi”. Dua kali Inter nyaris menjuarai Liga Champions, namun gagal di momen krusial. “Mendekat dua kali dan tidak bisa menyentuhnya adalah sesuatu yang tidak pernah bisa saya terima,” ungkapnya. Ia sadar Inter tidak bisa belanja besar seperti klub-klub kaya lainnya, tapi percaya pada kerja keras, ide permainan, dan tekad untuk sukses. “Kami berharap kesempatan ketiga datang dan kali ini menjadi yang tepat.”
Di lini tengah, Inter kedatangan kembali Aleksandar Stanković yang dipinjamkan ke Club Brugge, serta Petar Sucic yang akan menjalani musim kedua setelah tampil di Piala Dunia bersama Kroasia. Barella memuji kematangan Stanković dan kualitas alami Sucic. “Saat Petar menyentuh bola, kamu sadar dia punya sepak bola dalam darahnya,” pujinya. Kehadiran mereka diharapkan memperdalam skuad dan memberi opsi bagi Chivu.
Barella juga mengonfirmasi keinginannya untuk pensiun di Inter. “Ya, itu tergantung seberapa cepat saya menjadi tua,” candanya. Ia bangga menjadi pemain dengan assist terbanyak dalam sejarah klub, meski tak pernah menyangka. “Saya hanya bilang pada diri sendiri: saya akan bermain untuk Inter, memberikan segalanya, dan memenangkan segalanya. Saya bisa lebih baik, tapi saya bangga dengan perjalanan sejauh ini.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Barella menjadi contoh bagaimana seorang pemain bisa beradaptasi dengan perubahan fisik dan peran. Di era di mana banyak pemain top memilih pensiun dini atau pindah ke liga yang lebih tenang, kesetiaan Barella pada Inter dan kemauannya untuk terus belajar patut diapresiasi. Pertanyaan besarnya: mampukah ia membawa Inter meraih kembali kejayaan Eropa yang sudah lama dinanti?



