Gibran Duduk di Kursi Menko saat Sidang Kabinet, Istana Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Posisi duduk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sidang Kabinet Paripurna bergeser ke jajaran menteri koordinator, bukan di samping Presiden Prabowo.
- Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pergeseran itu murni teknis karena Prabowo menggunakan teleprompter yang memerlukan ruang di tengah.
- Istana menegaskan tidak ada masalah kekompakan kabinet dan justru menekankan capaian positif pemerintahan selama 21 bulan terakhir.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi angkat bicara mengenai posisi duduk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang tidak mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) Senin lalu. Dalam forum tersebut, Gibran duduk di deretan Menteri Koordinator, tepat di samping Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, bukan di kursi yang biasa ditempati wakil presiden di sisi kanan presiden.
Prasetyo, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pengaturan tempat duduk tersebut semata-mata didasari pertimbangan teknis. Ia merujuk pada kebutuhan Presiden Prabowo akan alat bantu bicara bernama teleprompter saat menyampaikan paparan capaian Kabinet Merah Putih. "Secara layout, Bapak Presiden berada di tengah-tengah. Kalau yang dipertanyakan posisi Wakil Presiden, menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis, tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (21/7).
Penjelasan ini sekaligus meredam spekulasi yang berkembang di publik mengenai adanya ketidakharmonisan di dalam kabinet. Beberapa pihak sebelumnya menilai perubahan posisi duduk tersebut sebagai sinyal ketidakseimbangan hubungan antara presiden dan wakil presiden. Namun, Prasetyo dengan tegas membantah tudingan tersebut. "Tidak ada, sama sekali tidak ada. Kami pada posisi sekarang sedang kompak-kompaknya, semua berusaha keras mencapai apa yang menjadi garis dari Bapak Presiden," katanya.
Lebih lanjut, Prasetyo mengingatkan bahwa substansi sidang jauh lebih penting daripada sekadar posisi duduk. Ia menekankan bahwa SKP tersebut merupakan ajang evaluasi dan penyampaian prestasi kabinet selama 21 bulan terakhir. "Banyak sekali prestasi yang berhasil dicapai di bawah pimpinan Bapak Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran," ucapnya. Pernyataan ini sekaligus mengalihkan fokus publik dari perdebatan teknis ke capaian nyata pemerintahan.
Di sisi lain, pengamat politik dari Universitas Indonesia, Aditya Perdana, menilai bahwa penjelasan Istana cukup masuk akal dan tidak perlu dibesar-besarkan. "Dalam setiap pemerintahan, pengaturan teknis seperti tempat duduk sering kali berubah tergantung kebutuhan acara. Yang penting adalah bagaimana kabinet tetap solid bekerja," ujarnya saat dihubungi terpisah. Ia juga menambahkan bahwa publik sebaiknya tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal yang bersifat administratif.
Ke depan, publik akan terus mengawasi dinamika hubungan antara Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan politik. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah penjelasan teknis ini cukup untuk meredam spekulasi, atau justru akan memunculkan tafsir baru di kalangan pengamat dan masyarakat.



