Ledakan di Proyek Hidroelektrik Sikkim: 9 Tewas, 15 Terjebak
Baca dalam 60 detik
- Sebuah ledakan di terowongan proyek PLTA di Sikkim, India timur laut, menewaskan sembilan pekerja dan menjebak 15 lainnya.
- Kebocoran gas metana dari formasi batuan bawah tanah menghambat upaya penyelamatan, memaksa tim khusus menggunakan peralatan oksigen.
- Insiden ini kembali menyoroti risiko pembangunan infrastruktur di kawasan Himalaya yang rawan bencana, dengan implikasi bagi proyek serupa di Indonesia.

Ledakan di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di negara bagian Sikkim, India timur laut, Senin (20/7) menewaskan sedikitnya sembilan orang dan menjebak 15 pekerja lainnya. Insiden ini terjadi saat para pekerja tengah membangun terowongan untuk proyek milik negara di Sungai Teesta, kawasan Himalaya yang dikenal rawan bencana.
Menurut Rajiv Roka, Direktur Otoritas Manajemen Bencana Negara Bagian Sikkim, diperkirakan total 25 hingga 27 orang terjebak saat kejadian. Ledakan diduga menjadi pemicu runtuhnya terowongan, meskipun penyebab pastinya masih dalam penyelidikan. "Kami tidak yakin apa yang menyebabkan ledakan karena terjadi jauh di dalam terowongan, kemungkinan besar bersifat alami," ujar Roka kepada AFP.
Upaya penyelamatan terkendala oleh kebocoran gas metana beracun yang keluar dari formasi batuan bawah tanah. Tim penyelamat hanya bisa masuk dengan membawa peralatan oksigen. "Operasi penyelamatan agresif sedang berlangsung, tetapi masalahnya ada banyak gas di sana," tambah Roka. Sebuah tim khusus yang terlatih dalam penanganan kecelakaan tambang telah diterbangkan untuk membantu.
Kawasan tersebut belakangan dilanda hujan monsun deras, yang mungkin memperburuk kondisi tanah. Para ahli ekologi memperingatkan bahwa proyek pembangunan besar-besaran di daerah Himalaya yang rapuh meningkatkan risiko bencana. Kecelakaan di lokasi konstruksi infrastruktur besar memang umum terjadi di India. Pada 2023, 41 pekerja berhasil diselamatkan setelah 17 hari terperangkap di bawah terowongan jalan yang runtuh di Uttarakhand, India utara.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan ketat dalam proyek infrastruktur di daerah pegunungan. Indonesia sendiri memiliki banyak proyek PLTA dan terowongan di kawasan rawan longsor dan gempa, seperti di Sumatera dan Jawa. Pengalaman India menunjukkan bahwa faktor alam seperti gas metana dan tekanan geologis perlu diantisipasi sejak tahap perencanaan.
Ke depan, investigasi penyebab ledakan akan menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa. Pertanyaan yang mengemuka: apakah standar keselamatan dan pemantauan gas di proyek-proyek serupa sudah memadai, baik di India maupun Indonesia?



