Mandor PLTA Nepal Bertahan di Terowongan demi Selamatkan Rekan: Kisah Heroik di Tengah Tragedi
Baca dalam 60 detik
- Sanjay Shah, mandor mekanik, selamat setelah 9 hari terperangkap di terowongan proyek PLTA Upper Trishuli 3A, usai longsor dahsyat di Nepal.
- Ia memilih tetap tinggal untuk memperingatkan rekan kerja, meski akhirnya ikut terjebak; aksinya menjadi simbol pengorbanan di tengah bencana yang menewaskan lebih dari 1.300 orang.
- Keselamatan pekerja infrastruktur di kawasan rawan bencana menjadi sorotan, relevan bagi Indonesia yang juga memiliki banyak proyek serupa di daerah terpencil.

Kathmandu, Nepal โ Di tengah duka dan kehancuran akibat bencana longsor yang melanda kawasan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Upper Trishuli 3A, muncul secercah harapan. Seorang mandor mekanik, Sanjay Shah (30), berhasil dievakuasi setelah terperangkap sembilan hari di dalam terowongan proyek. Namun, kisahnya bukan sekadar tentang bertahan hidup; ia mengungkapkan bahwa ia sengaja tinggal untuk membantu rekan-rekannya, sebuah tindakan yang menuai decak kagum dari tim penyelamat.
Bencana yang terjadi pada akhir Agustus lalu itu dipicu oleh runtuhnya dinding es dan bebatuan di pegunungan Himalaya, yang kemudian menyapu bersih lembah tempat proyek PLTA tersebut berada. Menurut otoritas Nepal, setidaknya 1.287 orang tewas dan lebih dari 5.000 lainnya dinyatakan hilang. Di sisi lain, pemerintah China melaporkan 21 korban jiwa di wilayah Tibet serta 541 orang hilang. Angka-angka ini menggambarkan skala tragedi yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan tersebut.
Shah, yang saat kejadian berada di ruang kontrol di dalam terowongan, mengaku bahwa hari itu jumlah pekerja jauh lebih banyak dari biasanya. "Biasanya ada empat hingga enam orang, tetapi hari itu mungkin ada 40 hingga 45 orang," ujarnya dalam video yang dibagikan otoritas Nepal. Ketika peringatan dini datang, ia segera memerintahkan rekan-rekannya untuk berlari menyelamatkan diri. Namun, waktu tak berpihak padanya. "Saya memilih bertahan karena tanggung jawab saya adalah menyelamatkan nyawa semua orang. Dalam kecelakaan sebesar ini, tidak pantas bagi saya untuk melarikan diri," katanya dari atas tandu, dengan masker oksigen menutupi wajahnya.
Selama sembilan hari dalam kegelapan, Shah mengaku bertahan dengan melantunkan mantra dan tetap berkomunikasi dengan tiga atau empat pekerja lain yang berada di bagian terowongan yang berbeda. Ia menduga masih ada rekan-rekan yang terjebak lebih dalam. Tim penyelamat dari Tentara Nepal akhirnya menemukan Shah dan rekannya, Kabir Maharjan, pada Jumat (4/9). Keduanya kini dirawat intensif di rumah sakit militer di Kathmandu. Rekaman video yang dirilis menunjukkan Shah digendong keluar dari reruntuhan dengan wajah berlumuran lumpur, sebuah gambaran heroik yang menyentuh hati banyak orang.
Insiden ini menyoroti risiko besar yang dihadapi para pekerja infrastruktur di kawasan rawan bencana. Nepal, yang terletak di zona seismik aktif dan memiliki medan pegunungan ekstrem, kerap menjadi lokasi proyek PLTA berskala besar. Namun, standar keselamatan kerja sering kali dipertanyakan. Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pelajaran berharga. Negeri ini juga memiliki banyak proyek PLTA dan infrastruktur di daerah terpencil yang rawan longsor dan gempa. Regulasi keselamatan yang ketat dan prosedur evakuasi yang jelas menjadi keharusan, bukan sekadar formalitas.
"Ketika gunung di atas kami runtuh, saya punya pilihan: lari atau bertahan. Saya memilih bertahan dan membantu," ujar Shah kepada tim penyelamat, seperti dikutip dari video resmi.
Para ahli memperkirakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih akan berlangsung lama, mengingat banyaknya korban yang diduga tertimbun di dalam terowongan. Pemerintah Nepal juga menghadapi tekanan untuk meningkatkan sistem peringatan dini dan respons darurat, terutama di wilayah pegunungan yang sulit diakses. Pertanyaannya, apakah tragedi ini akan menjadi momentum bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengevaluasi ulang keselamatan pekerja di proyek-proyek berisiko tinggi? Atau akankah kisah heroik seperti Shah hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah bencana yang terus berulang?



