Studi Ungkap 88,7% Kematian Akibat Penyakit Jantung di AS Bisa Dicegah, Dua Faktor Risiko Justru Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru menunjukkan hampir sembilan dari sepuluh kematian akibat penyakit jantung iskemik di AS pada 2023 terkait faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
- Tekanan darah tinggi, pola makan buruk, dan kolesterol LDL tinggi menjadi kontributor utama, sementara obesitas dan gula darah puasa tinggi justru meningkat tajam.
- Temuan ini menggarisbawahi pentingnya deteksi dini dan perubahan gaya hidup, relevan bagi Indonesia yang menghadapi tren serupa penyakit tidak menular.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal JAMA Cardiology mengungkapkan bahwa sekitar 88,7 persen kematian akibat penyakit jantung iskemik di Amerika Serikat pada tahun 2023 berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah. Meski angka kematian total menurun drastis dalam tiga dekade terakhir, dua faktor risiko—indeks massa tubuh tinggi dan gula darah puasa tinggi—justru menunjukkan peningkatan kontribusi yang mengkhawatirkan.
Penelitian yang menggunakan data Global Burden of Disease Study 2023 ini menganalisis tren kematian dan paparan faktor risiko pada penduduk AS dari tahun 1990 hingga 2023. Hasilnya, pada 2023 tercatat 473.000 kematian akibat penyakit jantung iskemik—turun 58,7 persen dibandingkan 1990. Namun, penurunan ini tidak merata. Faktor risiko yang paling dominan adalah tekanan darah sistolik tinggi (menyumbang 47,2 persen kematian), risiko diet (38,6 persen), dan kolesterol LDL tinggi (28,5 persen).
Yang menjadi perhatian utama adalah peningkatan signifikan kematian yang terkait dengan obesitas dan diabetes. Sejak 1990, kematian akibat penyakit jantung iskemik yang disebabkan oleh BMI tinggi naik 12,5 persen, sementara yang terkait gula darah puasa tinggi meningkat 10,5 persen. Gregory Roth, MD, MPH, penulis utama studi dari University of Washington, menyebut tren ini sebagai “risiko yang tumbuh paling cepat” dan mendesak adanya intervensi untuk membalikkan arahnya.
Para ahli kardiologi yang tidak terlibat dalam studi ini menegaskan bahwa temuan tersebut sejalan dengan pengamatan klinis sehari-hari. Carlos Alfonso, MD, dari Baptist Health Miami, mengatakan bahwa pergeseran terbesar terlihat pada menurunnya kontribusi merokok, namun obesitas dan diabetes justru meningkat sebagai faktor risiko utama. “Kita melihat pasien dengan berat badan berlebih dan diabetes semakin mendominasi ruang praktik,” ujarnya.
Di Indonesia, situasi serupa mulai mengemuka. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk dewasa meningkat dari 21,8 persen (2018) menjadi lebih dari 30 persen pada 2023. Sementara itu, penyakit jantung koroner masih menjadi penyebab kematian tertinggi setelah stroke. Jika tren ini tidak dikendalikan, beban kesehatan masyarakat bisa semakin berat.
Renato Apolito, MD, dari Hackensack Meridian Jersey Shore University Medical Center, menekankan bahwa individu sebenarnya memiliki kendali besar atas risiko ini. “Diet rendah lemak jenuh dan makanan olahan, olahraga teratur, menjaga BMI ideal, serta mengontrol kolesterol dan gula darah dengan obat bila perlu, dapat menurunkan sebagian besar risiko kardiovaskular,” jelasnya.
Langkah sederhana seperti rutin memeriksa tekanan darah, menjalani skrining kesehatan tahunan, dan mengurangi asupan gula tambahan menjadi kunci. Alfonso menambahkan, “Pasien perlu tahu angka-angka mereka—tekanan darah, kolesterol, gula darah—dan bertindak sebelum terlambat.”
Pertanyaan besarnya kini: apakah Indonesia siap mengadopsi strategi pencegahan yang lebih agresif, seperti kampanye deteksi dini dan pengendalian obesitas, sebelum angka kematian akibat penyakit jantung ikut melonjak seperti yang diperingatkan studi ini?



