Rupiah Menguat Tipis di Tengah Bayang-Bayang Konflik Timur Tengah dan Suku Bunga BI
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka menguat 0,06% ke Rp17.920 per dolar AS pada Selasa (21/7), menjauhi level kritis Rp18.000.
- Konflik Timur Tengah dan penguatan dolar AS menjadi beban utama, meski ada harapan gencatan senjata 10 hari.
- Pasar menanti hasil RDG Bank Indonesia yang berakhir Rabu (22/7) sebagai katalis potensial bagi pergerakan rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan Selasa (21/7/2026) dengan penguatan tipis, meskipun tekanan dari faktor eksternal masih membayangi. Berdasarkan data Refinitif, mata uang Garuda terapresiasi 0,06% ke posisi Rp17.920 per dolar AS, setelah pada perdagangan sebelumnya sempat menyentuh level terendah Rp17.990.
Penguatan tipis ini terjadi di tengah indeks dolar AS (DXY) yang terus merangkak naik mendekati level 101, menandakan permintaan terhadap aset safe-haven masih tinggi. Rupiah seolah berjalan di atas tali tipis, berusaha menjauh dari level psikologis Rp18.000 yang sempat diincar pada sesi sebelumnya. Pada Senin (20/7), rupiah ditutup melemah 0,25% di Rp17.930, setelah nyaris menembus batas Rp18.000.
Sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah. Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah ini langsung memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Di sisi lain, secercah harapan muncul setelah Teheran menyatakan menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari mediator internasional. Pasar masih mencerna sinyal yang saling bertolak belakang ini.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, situasi ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, penguatan dolar AS sebagai aset aman menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di sisi lain, jika konflik mereda, harga minyak bisa turun dan mengurangi tekanan inflasi global, yang pada akhirnya menguntungkan negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Namun, ketidakpastian yang masih tinggi membuat investor cenderung wait and see.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dimulai hari ini dan akan berakhir pada Rabu (22/7). Pasar menantikan keputusan suku bunga acuan, yang dapat menjadi sinyal arah kebijakan moneter ke depan. Jika BI mempertahankan suku bunga, rupiah mungkin mendapat sedikit dukungan, tetapi jika ada sinyal dovish, tekanan terhadap rupiah bisa bertambah. Analis memperkirakan BI akan tetap berhati-hati mengingat tekanan eksternal yang masih kuat.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat tergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan hasil RDG BI. Apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.000, atau justru kembali tertekan? Jawabannya akan ditentukan dalam beberapa hari ke depan.



