IHSG Terjun Bebas ke Level 6.189, Terseret Aksi Jual Asing dan Tarif Trump
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ambles nyaris 2% pada awal sesi Jumat, dipimpin oleh tekanan jual di saham perbankan berkapitalisasi besar.
- Kebijakan tarif baru AS terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, serta harga minyak Brent di atas US$100 per barel menjadi pemicu utama kepanikan investor.
- Net foreign sell mencapai Rp920 miliar sehari sebelumnya, menandakan eksodus modal asing yang berpotensi berlanjut seiring ketidakpastian global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Jumat (24/7/2026), dengan pelemahan yang hampir menyentuh dua persen di tengah derasnya arus jual investor asing dan sentimen global yang memburuk. Hingga pukul 09.26 WIB, indeks merosot 125,92 poin atau 1,99% ke posisi 6.189,39, menandai level terendah dalam beberapa pekan terakhir.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 556 saham tercatat melemah, sementara hanya 99 saham yang berhasil menguat dan 310 saham stagnan. Nilai transaksi yang sudah mencapai Rp4,37 triliun dengan volume 9,79 miliar saham dalam 608,2 ribu kali transaksi mengonfirmasi tingginya aktivitas jual sejak bel pembukaan. Tekanan terbesar datang dari saham-saham big caps, khususnya sektor perbankan yang menjadi sasaran utama aksi jual asing.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (23/7), investor asing tercatat melakukan jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp920,3 miliar di pasar reguler. Saham-saham bank jumbo seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menjadi yang paling dibuang. Aksi lepas ini berlanjut hari ini, memperparah koreksi IHSG yang sudah berada dalam tren bearish.
Sentimen eksternal menjadi pemicu utama kepanikan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan perlambatan perdagangan global dan berpotensi menekan ekspor Indonesia ke pasar AS. Di saat bersamaan, konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak Brent melonjak ke US$100,69 per barel, level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Lonjakan harga energi ini memperkuat ekspektasi bahwa inflasi global akan tetap tinggi, sehingga bank sentral seperti The Fed mungkin mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Bagi investor Indonesia, kombinasi tekanan eksternal dan aksi jual asing menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat. Sektor perbankan, yang menjadi tulang punggung IHSG, kini berada dalam posisi rentan. Analis memperkirakan jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji level psikologis 6.000 dalam waktu dekat. Namun, beberapa pelaku pasar melihat pelemahan ini sebagai peluang akumulasi, mengingat valuasi saham perbankan sudah mulai menarik.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada respons Bank Indonesia dan langkah-langkah stabilisasi yang mungkin diambil. Apakah otoritas akan melakukan intervensi di pasar obligasi atau memberikan sinyal kebijakan yang lebih akomodatif? Jawabannya akan menentukan apakah IHSG mampu bangkit kembali atau justru melanjutkan koreksi lebih dalam.



