IHSG Tembus 6.300: Sektor Properti Pimpin Reli, Sentimen RDG BI dan Rating S&P Jadi Katalis
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level psikologis 6.300 pada perdagangan Selasa, didorong aksi beli di hampir seluruh sektor.
- Sektor properti memimpin penguatan dengan kenaikan 5,46%, sementara sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang terkoreksi.
- Optimisme menjelang RDG Bank Indonesia dan kepastian peringkat utang dari S&P Global menjadi pemicu utama reli, meski risiko geopolitik masih diwaspadai.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 6.300 pada perdagangan Selasa (21/7/2026), mencatatkan penguatan 1,18% ke posisi 6.305,60. Reli ini didorong oleh aksi beli yang merata di hampir seluruh sektor, dengan sektor properti menjadi motor utama penguatan.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 400 saham menguat, 248 saham melemah, dan 317 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp10,28 triliun dengan volume perdagangan 27,39 miliar saham. Sektor properti melesat 5,46%, diikuti bahan baku (2,08%), energi (2,05%), utilitas (1,99%), dan teknologi (1,05%). Satu-satunya sektor yang berada di zona merah adalah kesehatan yang turun 1,28%.
Kontributor terbesar terhadap kenaikan IHSG adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menyumbang 10,13 poin, disusul PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) sebesar 6,43 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 5,85 poin, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 5,16 poin, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 2,95 poin. Sementara itu, saham-saham seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT MD Entertainment Tbk (FILM) menjadi pemberat, meskipun bobotnya tidak signifikan.
Dari sisi sentimen, reli IHSG ditopang oleh optimisme investor menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan ini, yang diharapkan memberikan sinyal suku bunga akomodatif. Selain itu, keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil turut menjadi katalis positif. S&P menilai tekanan fiskal dan eksternal akibat harga energi tinggi, kenaikan suku bunga global, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian kebijakan hanya bersifat sementara, serta akan membaik seiring pemulihan harga komoditas dan disiplin fiskal pemerintah.
Bagi investor Indonesia, penguatan IHSG ini memberikan angin segar di tengah kekhawatiran akan dampak ketegangan geopolitik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak. Penguatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury juga berpotensi memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski demikian, sentimen domestik yang positif masih mampu mendorong indeks bertahan di zona hijau.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati hasil RDG BI dan perkembangan geopolitik global. Pertanyaan utamanya: akankah IHSG mampu mempertahankan momentum ini dan melanjutkan reli menuju level 6.400, atau justru terkoreksi akibat tekanan eksternal?



