Pembajakan Siaran Piala Dunia: Hampir 3.000 Situs Diblokir, Kolombia Tangkap Empat Tersangka
Baca dalam 60 detik
- Otoritas AS dan Amerika Selatan memblokir hampir 3.000 domain yang menyiarkan secara ilegal pertandingan Piala Dunia, dengan lebih dari 1.000 domain di antaranya ditutup di Amerika Serikat.
- Pembajakan siaran sepak bola telah mencapai skala industri, merugikan pemegang hak siar miliaran dolar per tahun dan mendorong kenaikan harga langganan bagi penggemar.
- Kolombia menangkap empat anggota kelompok siber yang diduga mendistribusikan akses ilegal, sementara 11 orang lainnya dihukum karena memproduksi dan menjual barang palsu bermerek olahraga.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengumumkan hampir 3.000 situs web diblokir atau disita karena menyiarkan secara ilegal pertandingan Piala Dunia. Tindakan ini merupakan bagian dari operasi bersama yang melibatkan aparat penegak hukum di Amerika Serikat dan sejumlah negara Amerika Selatan, dengan sandi "Operation Offsides" dan "Operation Red Card".
Dalam penggerebekan tersebut, lebih dari 1.000 domain ditutup di AS saja, sementara jumlah yang hampir sama diblokir di Kolombia. Otoritas Kolombia bahkan menangkap empat orang yang diduga menjadi anggota kelompok siber bernama Los Ciberinfiltrados, yang dituduh mendapatkan dan mendistribusikan akses ilegal ke pertandingan Piala Dunia. Selain itu, 830 situs lain di Argentina, Ekuador, Peru, Brasil, dan Republik Dominika juga ikut ditakedown.
Ivan J. Arvelo, Direktur Pusat Koordinasi Hak Kekayaan Intelektual Nasional (NIPRCC) di bawah Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS (ICE), menegaskan bahwa penyiaran tidak sah pertandingan Piala Dunia melanggar hak kekayaan intelektual dan "menyuburkan organisasi kriminal". Menurutnya, praktik ini tidak hanya merugikan pemegang hak siar, tetapi juga mendanai jaringan kejahatan terorganisir.
Asisten Jaksa Agung DOJ, A. Tysen Duva, menyebut upaya berkelanjutan ini menegaskan komitmen pemerintahan AS terhadap hak kekayaan intelektual dan kesuksesan Piala Dunia FIFA 2026 yang akan datang. Operasi ini juga didukung oleh FIFA, beIN Media Group, NBC Universal, Ultimate Fighting Championship, dan Warner Brothers. FIFA sendiri memperoleh sebagian besar pendapatannya dari penjualan hak siar ke berbagai jaringan media global.
Fenomena pembajakan siaran sepak bola telah mencapai "skala industri", menurut para analis. Meningkatnya biaya hak siar mendorong kenaikan harga langganan bagi penggemar di rumah, terutama jika mereka harus berlangganan beberapa layanan untuk menonton tim kesayangan. Akibatnya, sebagian penggemar beralih ke siaran ilegal untuk menghindari biaya tersebut. Charles Rivkin, Ketua Aliansi untuk Kreativitas dan Hiburan (ACE), menyatakan bahwa Piala Dunia adalah "jenis acara langsung global yang dengan cepat dieksploitasi oleh jaringan pembajakan".
Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat maraknya situs ilegal yang menyiarkan pertandingan sepak bola, termasuk Liga Inggris dan Liga Champions. Meskipun belum ada data resmi mengenai jumlah situs yang diblokir di Indonesia, praktik serupa juga terjadi dan merugikan pemegang hak siar resmi seperti Mola TV dan Vidio. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara berkala memblokir situs-situs pembajakan, namun efektivitasnya masih menjadi perdebatan karena situs baru kerap muncul dengan domain berbeda.
Ke depan, keberhasilan operasi ini di Amerika menjadi preseden bagi negara lain, termasuk Indonesia, untuk lebih agresif dalam memberantas pembajakan siaran olahraga. Namun, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: akankah penindakan semacam ini mampu mengubah perilaku konsumen yang beralih ke siaran ilegal karena faktor biaya, atau justru mendorong industri untuk mencari model bisnis yang lebih terjangkau bagi penggemar?



