Gelombang Panas Jepang: Ancaman Tersembunyi di Balik Suhu 40 Derajat
Baca dalam 60 detik
- Jepang mencatat rekor suhu ekstrem dengan istilah baru 'kokushobi' untuk hari di atas 40°C, memicu lonjakan kasus heatstroke.
- Lansia menjadi kelompok paling rentan: 60% dari 100.510 pasien heatstroke tahun lalu berusia 65+, dan 80% kematian terjadi pada mereka.
- Kematian terkait panas (heat-related death) diperkirakan tujuh kali lipat dari angka resmi heatstroke, mengancam pasien penyakit kronis.

Jepang tengah menghadapi musim panas paling ekstrem dalam sejarah, dengan suhu harian yang konsisten menembus 35 derajat Celsius dan bahkan mencapai 40 derajat—fenomena yang oleh Badan Meteorologi Jepang disebut sebagai 'kokushobi' atau 'hari yang kejam panasnya'. Lonjakan suhu ini telah mendorong peningkatan tajam jumlah pasien heatstroke yang dilarikan ke rumah sakit, memicu kekhawatiran akan keselamatan jiwa, terutama di kalangan lansia.
Musim panas tahun lalu menjadi yang terpanas sejak pencatatan dimulai, dengan 1.521 orang meninggal akibat heatstroke. Ini adalah tahun keempat berturut-turut angka kematian akibat sengatan panas melampaui 1.000 jiwa. Dari 100.510 pasien yang dirawat karena gejala heatstroke, hampir 60 persennya berusia 65 tahun ke atas. Kelompok ini juga menyumbang sekitar 80 persen dari total kematian, dan banyak yang mengalami efek samping jangka panjang seperti kerusakan otak atau kesulitan berjalan.
Fenomena ini tidak hanya soal suhu ekstrem, tetapi juga menyangkut kebiasaan dan kesadaran. Survei Universitas Tokyo mengungkapkan bahwa banyak lansia yang meninggal karena heatstroke meskipun memiliki pendingin ruangan (AC) di rumah. Beberapa kasus bahkan menunjukkan kesalahan fatal: baterai remote AC habis, atau pengaturan suhu yang salah—misalnya, suhu diatur 28 derajat tetapi mode pendingin tidak aktif. Rumah tangga yang hanya dihuni lansia menjadi kelompok berisiko tinggi, sehingga peran tetangga dan keluarga untuk memeriksa kondisi mereka sangat penting.
Namun, ancaman tidak hanya pada heatstroke langsung. Istilah 'kematian terkait panas' (heat-related death) mulai mendapat perhatian serius. Dehidrasi dan penurunan kondisi fisik akibat nafsu makan berkurang dapat memperburuk penyakit kronis seperti jantung, ginjal, diabetes, dan gangguan pernapasan. Analisis data kematian nasional dari 2015 hingga 2019 menunjukkan bahwa angka kematian terkait panas bisa mencapai tujuh kali lipat dari jumlah kematian akibat heatstroke yang tercatat. Artinya, ribuan nyawa mungkin melayang tanpa terdeteksi sebagai dampak langsung panas.
Pemerintah Jepang telah mewajibkan langkah-langkah pencegahan heatstroke di tempat kerja sejak tahun lalu, seperti istirahat berkala dan asupan cairan yang cukup. Hasilnya, angka kematian pekerja akibat sengatan panas menurun. Namun, tantangan terbesar justru ada di rumah, terutama bagi lansia. Di tengah kenaikan harga energi, banyak orang enggan menyalakan AC demi menghemat biaya. Padahal, AC harus dipandang sebagai alat penyelamat jiwa, bukan sekadar kenyamanan. Pemerintah juga mendorong penggunaan 'cooling shelter'—tempat umum seperti supermarket dan perpustakaan yang dibuka sebagai tempat berteduh dari panas.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat penting. Meskipun suhu di Indonesia jarang mencapai 40 derajat, kelembapan tinggi dan urbanisasi padat membuat risiko heatstroke tetap signifikan. Lansia dan pekerja luar ruangan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya menghadapi ancaman serupa. Belum ada data resmi tentang heat-related death di Indonesia, tetapi pola cuaca ekstrem global menunjukkan perlunya sistem peringatan dini dan edukasi publik tentang bahaya panas. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadapi musim panas yang semakin tidak terduga?



